Halaman Rumah Syamsa: Koran
Hijrah agar Bulan Suci Kian Berkah

Hijrah agar Bulan Suci Kian Berkah


Judul buku : Habis Hijrah Terbitlah Berkah
Penulis : Andri Astiawan Azis
Penerbit : Qafila (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
ISBN : 978-602-051-95-0
Cetakan : Pertama, 2019
Tebal : 128 halaman


Bulan Ramadan adalah bulan penuh keutamaan, sangat tepat untuk berhijrah dengan mendekatkan diri pada Ilahi. Buku tulisan Andri Astiawan Azis ini sangat bagus untuk menemani perjalanan hijrah agar meraih keberkahan. Hijrah itu bukan menjadi lebih baik dari orang lain, tapi menjadi lebih baik dari diri kita yang dulu. Dari 220 juta penduduk Indonesia, sekitar 87 persen adalah muslim, tetapi sangat disayangkan, kita tidak memiliki generasi muslim yang membanggakan, yang siap mewakafkan masa muda demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Generasi muda muslim seolah kehilangan jati diri, padahal seharusnya mereka harus melanjutkan perjuangan perbaikan di tengah umat yang sedang sakit. Sebuah pertanyaan mendasar harus kita coba jawab, yakni digunakan untuk apakah masa muda kita? Apakah hanya untuk bersenang-senang? Sudah saatnya kita berubah menjadi lebih baik, selagi masih ada waktu.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa Allah lebih gembira dengan tobat hamba- Nya ketika ia bertobat, daripada gembiranya seorang yang menemukan ontanya yang hilang di tengah keputusasaannya dalam pencarian.

Dengan bertobat dan hijrah menjadi lebih baik, maka kita akan membuat- Nya gembira, dan pastilah keberkahan akan terlimpah kepada kita. Dosa dan kemaksiatan yang diikuti dengan pertobatan yang sungguhsungguh selalu melahirkan lompatan keimanan yang jauh lebih tinggi dari sebelum berbuat dosa. Sementara ketaatan yang diikuti rasa puas diri dan sikap jemawa akan menggerus pahala sampai titik nol yang sia-sia. (hal. 10)

Syarat bertobat menurut Ibnu Katsir adalah tobat yang ikhlas bukan karena makhluk atau tujuan duniawi. Kemudian menyesali dosa yang telah dilakukan dan tidak mengulanginya. Jika ia berbuat keharaman maka segera ditinggalkan dan kembali melaksanakan kewajiban. Dan jika kesalahannya berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf. (hal.21)

Kita harus bisa move on dari kesalahan dan keburukan dengan meluruskan niat, meningkatkan ibadah, dan perbanyak silaturahmi. Dan jangan tunda lagi, do it now! Kita juga harus menjaganya agar istikamah dengan mencari lingkungan yang tepat, terus beramal walau sedikit, senantiasa membaca dan mempelajari Alquran. Sibukkan diri dengan mengikuti mentoring Tarbiah Islamiyah dan meningkatkan rasa sosial dengan menebar kebaikan dan berdakwah. Kebaikan akan selalu tertulis dan tercatat sebagai kebaikan. Jangankan kebaikan yang besar, kebaikan kecil pun selamanya akan tercatat sebagai kebaikan. (hal.87)



Kita juga harus paham bahwa sebaik apa pun niat kita berhijrah, pasti Allah akan mendatangkan ujian agar kita tahu bahwa menuju surga-Nya tidak semudah hanya dengan kemantapan mulut untuk berkata “Iya, aku mau berubah.” Proses itu tetap harus dengan kemantapan hati dan didasari kesabaran dan keikhlasan, perlu diperjuangkan dengan keistikamahan. Maka jangan putus asa saat kita dihina, dicaci, dan dipermalukan. Dianggap sok alim, sok saleh, sok jadi anak masjid. Jangan bersedih, karena Allah bersama kita.

Pada bab terakhir, penulis menyajikan 5 kisah hijrah yang bisa dijadikan ibrah. Kisah tersebut di antaranya adalah kisah Tsa’labah, kisah Sayyidina Umar, Fathimah, dan Hanzhalah bin Abu Amir. Marilah kita nikmati berproses menjadi lebih baik, sambil mereguk sajian Ramadan yang penuh keutamaan. Libatkan Allah dalam setiap mimpi dan harapan. Karena Allah tak akan pernah mengecewakan hamba yang bergantung pada-Nya.

Peresensi: Wakhid Syamsudin, Ketua Umum Komunitas Literasi One Day One Post (ODOP)

Dimuat di surat kabar Koran Jakarta rubrik Perada edisi 20 Mei 2019
Rindu Kampung

Rindu Kampung


Rindu Kampung

dalam damai
terhirup aroma padi disemai
yang dulu lalai
kini selalu terkenang, aduhai

saat kumandang asar di surau
langkah petani antara galau
biji padi sudah semanis dikau
pipit menggoda terbang dihalau
angin berdesau
mengabarkan rindu perantau

Rindu Surau

saat kecil belajar mengaji
alif sampai ya dalam eja
di surau kampung berdinding suram
berlentera dian tak kunjung padam

kapur tulis berdebu
patah kecil satu-satu
papan hitam menjadi putih
berpindah ke tangan pipi

di sana di surau itu
yang kini tak terurus lagi
pernah bertumbuh diri ini
dalam balut ilmu dan budi

Rindu Ibu

jauh
tapi hati ini sedekat saat menyusu
tanpa ada jarak ruang dan waktu

kilatan air mata saat berpamit padamu
saat diri ini hendak pergi dulu
menyayat kalbu

suaramu mendendang bertalu
dalam jiwa rapuhku
memanggil kepadamu

seperti burung terbang
ia akan kembali ke sarang
pada waktunya
pada waktuku

Rindu Kamu

tergugu saat kenangan tak bisa hilang
serasa dikau ada di sisi menemani
dalam kepedihan suka duka
menyanyikan lagu tentang cinta

betapa aku tidak mampu
seperti pungguk saja saat terjauh darimu
dikau serupa bulan di angkasa raya
jauh dan tak tergapai
tapi aku rindu

aku janji kembali
kembali aku berjanji
padamu

Dimuat di Harian Analisa, edisi 27 Maret 2019


Pada edisi 10 April 2019, puisi-puisi tersebut diapresiasi oleh Redaktur. Berikut screenshot-nya: