√ Menulis Lagi Tentang Kamu, Seolah Tiada Habisnya - Halaman Rumah Syamsa

Menulis Lagi Tentang Kamu, Seolah Tiada Habisnya



Sungguh kamu adalah yang paling mengesankan dalam hidupku. Apapun tentang kamu, semuanya. Perkenalan itu..., kenekatanku waktu itu..., penolakanmu... Oh, semua masih indah dalam kesanku.

Kamu pasti masih ingat pertama kali kita bertemu. Aku pura-pura mengetikkan jadwal kajian remaja demi menjumpaimu. Bidadari di rental komputer. Ah... Kadang malu sendiri ingat waktu itu. Kamunya cuek saja menyelesaikan ketikan yang kupesan. Tanpa melirikku yang curi-curi padang padamu. Kamu tahu, ada bunga bermekaran ketika itu.

Aku tak perlu menceritakan bagaimana perjuanganku mendapatkan nomer telepon genggammu. Itu tak penting. Yang penting itu, bagaimana aku menyusun kata terbaik untuk kukirim padamu pada SMS perdana.

"Assalamualaikum..., benar ini nomer Ukhti Ningsih?"

Terkirim. Dan serasa seabad menunggumu membalasnya. Kamu sibuk di depan komputermu? Atau tidak dengar ada SMS masuk ke telepon genggammu? Atau jangan-jangan kamu tidak suka merespon SMS dari nomer asing?

Akhirnya balasanmu kuterima. "Waalaikumussalam. Iya. Ini siapa?"

Waduh. Aku siapa? Mengapa mendadak pertanyaan itu sulit aku jawab. Apa aku harus  langsung menjawab, memperkenalkan jatidiriku padamu?

"Ana Sam," kusebutkan namaku.

"Sam siapa? Orang mana?"

"Yang kemarin mengetikkan jadwal pengisi kajian remaja."

"Oo... Yang pakai baju koko tapi rambutnya gondrong itu, ya?"

Kamu mengingatku rupanya. Syukurlah. "Ingatan yang bagus, Ukh...."

"Ada perlu apa ya?"

"Em... sekedar taaruf boleh, kan?"

"Silakan. Ini kan sudah saling kenal."

Paling tidak, aku sudah mengenalkan diriku padamu. Itu sudah sesuatu yang sangat berarti bagiku.

Hari yang kulalui setelahnya adalah hari yang penuh kesan. Sesuatu yang indah, bunga-bunga cinta bermekaran. Dan itu aneh, padahal aku baru mengenalmu. Kesederhanaanmu. Wajah bersihmu tanpa make up berlebih. Kerudung lebarmu. Kesantunanmu. Oh, aku benar-benar tertawan!

Tapi sayang, SMS-SMS susulanku sangat jarang kamu respon. Apa yang terjadi? Kamu tidak suka kukirimi SMS? Sampai aku tergetar pada pesan yang kamu tulis suatu ketika:

"Akhi, pada baris-baris huruf yang antum kirim, ada ribuan anak panah setan yang meluncur. Maafkan jika ana takut meresponnya."

Deg. Aku terhempas. Aku memang salah dengan segala kedunguanku mengirimimu SMS tanpa peduli waktu. Bahkan SMS-SMS bualan tidak ada maknanya, yang justru membuatku sangat buruk dimatamu.

Kamu sangat mengesankan. Itu yang akhirnya kutangkap. Kamu begitu kukuh menjaga diri dari lawan jenis. Bahkan sekedar berbalas SMS. Tahukah... aku semakin kasmaran. Bahkan semakin tertantang untuk mendapatkanmu. Oh....

Entah siapa yang mengembuskan kenekatan pada diri ini saat jari-jariku menulis ini padamu...

"Afwan, Ukh. Ana mau berterus terang pada Ukhti. Ana ingin mencari pasangan hidup, dan ana jatuh hati pada Ukhti. Berkenankah sekiranya Ukhti menerima pinangan ana? Afwan... afwan... afwan!"

SMS itu benar-benar terkirim padamu. Gila... mengapa aku senekat ini? Dan apa yang terjadi sesaat setelah kamu membacanya? Mendadak tubuhku panas-dingin. Aku gemetaran. Aku tidak tahu ada apa dengan diriku.... Aku takut menerima balasan SMS itu. Apa kamu akan menolakku? Ya Allah... jika dia terbaik untukku, jodohkanlah. Jika dia memang tercipta bukan untukku, hilangkanlah pengharapanku padanya.

Kamu tahu, lamanya kamu membalas SMS itu sangat-sangat menyiksaku. Ketakutan-ketakutanku... Bayang-bayang penolakanmu... Apakah akan hancur seketika hatiku?

Tidak sabar akan balasan itu, kukirim SMS susulan, "Jika Ukhti tidak berkenan, maafkanlah SMS tadi. Abaikan saja, Ukh. Anggap tidak ada SMS itu. Afwan...."

Dan balasanmu kuterima...

"Akhi, kita baru kenal nama. Bahkan wajah Akhi saja ana sama sekali tidak ingat. Aneh, antum kok yakin sekali mau meminang ana?"

"Ukh, ana sudah sangat yakin semenjak melihat Ukhti pertama kali."

"Afwan, antum belum tahu siapa ana. Ana tidak sebaik yang mungkin antum perkirakan."

"Ana sudah yakin, Ukh. Apakah niat tulus ana bisa Ukhti terima? Layakkah ana untuk Ukhti?"

"Afwan, Akhi. Ana masih ingin kerja dulu. Masih ingin bantu-bantu orangtua."

"Ana bersedia menunggu kesiapan Ukhti."

"Tidak, Akhi. Ana tidak bisa."

"Mengapa, Ukh?"

"Ana tidak bisa membiarkan orang lain berharap pada ana, padahal ana belum ada kepastian ke arah itu."

"Jadi?"

"Afwan... ana tidak bisa menerima antum. Masih banyak muslimah lain yang bisa antum pilih, yang lebih baik dari pada ana yang hanya seperti ini."

"Tidak, Ukh. Ana akan menerima Ukhti apa adanya. Begitupun ana harap Ukhti sudi menerima ana apa adanya...."

"Tidak, Akhi. Afwan. Banyak alasan yang tidak bisa ana jelaskan di sini. Afwan ana benar-benar tidak bisa...."

Kamu menolak diri ini. Rasanya hancur hatiku. Tapi mau berkata apa... aku harus menghormati keputusan kamu.

Hari berganti hari selanjutnya adalah hari bagi seorang pemuda patah hati yang harus membungkus pengharapan pada sang bidadari. Akulah pemuda patah hati itu. Mengenalmu dan menerima penolakanmu adalah sebuah kesan yang tidak bisa kulupakan. Aku merasa memang tak pantas untukmu. Ukhti Ningsih, semoga Allah memberikanmu jodoh yang terbaik. Semoga aku juga mendapatkan jodoh terbaikku yang Allah janjikan.

Seorang kawan memperkenalkanku pada seorang gadis. Siapa tahu akan berjodoh denganku. Aku coba meresponnya sepenuh hati. Tapi rupanya jodoh itu belum tiba. Gadis itu bahkan belum bisa kujumpai sebelum akhirnya harus pergi ke kota lain untuk panggilan pekerjaannya.

Ada pula saudara jauhku yang mencoba mencomblangkanku pada salah satu tetangganya. Gadis yang baik dan shalihah. Tapi sekali lagi belum ketemu jodoh bagiku. Kami bahkan belum saling sapa, saat akhirnya tidak ada kejelasan tentang rencana perkenalan ini.

Aku pada sebuah perenungan. Merasa seolah jodohku sebegitu sukar kutemukan. Siapalah aku? Sudah pantaskah aku untuk mendapatkan muslimah shalihah? Apakah aku sudah mematut kesalihanku untuk dijodohkan dengan muslimah yang taat?

Aku berkaca. Pada kaca yang sesungguhnya. Kupandangi pemuda berambut gondrong itu. Aku mengurusi remaja masjid di kampungku. Juga TPA anak-anak. Bukan karena aku seorang yang berilmu lebih. Semua karena aku tergerak begitu saja saat tidak ada lagi pemuda yang sudi mengurus remaja masjid dan TPA. Aku, baju kokoku, dan rambut gondrong sebahuku. Tuhan, di mana Engkau sembunyikan jodohku?

Suatu kali, aku mendatangi tempat kamu bekerja. Ada yang harus aku ketikkan. Biasalah urusan masjid. Kamu masih ingat aku, kan? Atau kamu pangling padaku? Iya, ini aku dengan sedikit penampilan yang berubah. Aku memotong pendek rambutku. Lucu, ya? Kamu kulihat tersenyum biasa saja padaku. Pintarnya kamu. Memang tidak ada yang perlu dianggap tidak biasa, kan. Ketikan selesai dan aku pamit pergi. Semua seperti sedia kala.

Malam dingin usai shalat Isya saat telepon genggamku berbunyi. Ada SMS masuk. Seseorang mengirimiku sebuah doa: "Ya Allah, karuniakan pendamping hidup untukku, yang bisa menuntunku ke surga-Mu dalam naungan kasih sayang-Mu, yang dengannya aku bisa membanggakan zuriat-zuriat yang berbakti pada-Mu."

Aku mengaminkannya dengan sebuah senyuman. Siapa menulis kalimat doa itu? Nama kamu sebagai pengirimnya. Kamu masih menyimpan nomer telepon genggamku?

"Apa kabar, Ukhti?"

"Bikhair, Akhi."

"Tumben SMS?"

"Iseng. Tidak boleh, ya?"

"Boleh. Ana malah senang, kok."

"Kabar antum gimana? Sudah dapat bidadari yang antum cari?"

Deg. Tiba-tiba ada yang berdebar di dadaku.

"Belum, Ukh. Ada yang ditaksir tapi menolak. Nasib ana sedang tidak bagus."

Kamu untuk beberapa saat membiarkan SMS-ku tanpa balas.

"Afwan ana tidak bermaksud menyinggung soal itu, Ukh. Saking senangnya di-SMS Ukhti...," lekas kuperbaiki suasana.

"Afwan, Akhi."

"Iya, ana paham kok, Ukh. Ana ini siapa. Hehehe. Sudahlah, omongin yang lain saja."

"Boleh nanya...?"

"Nanya apa? Silakan."

"Apa yang membuat antum yakin pada ana padahal belum lama kenal?"

Deg. Aku baca berkali tulisan kamu. Apa maksud kata-katamu?

"Ana sudah bilang dulu, kan. Ana jatuh hati pada apa adanya Ukhti. Afwan."

"Akhi... ana ingin bertanya banyak hal tentang antum boleh?"

"Oh... silakan... silakan."

Kamu tahu betapa hatiku tak menentu saat kamu tulis SMS demi SMS menanyakan tentangku, kegiatanku, bahkan keluargaku. Apa ini sebuah sinyal? Aku jawab segala tanyamu sejujurku. Sesekali aku bertanya balik tentang kamu. Kamu pasti ingat semua itu....

"Sudah cukup, Akhi. Syukron."

"Apa... apa ana memiliki kesempatan itu?"

"Kesempatan apa?"

"Memasuki kehidupan Ukhti. Afwan."

Kamu diam.

Hening.

Aku kembali merinding.

"Tunggu 3 hari, Akhi. Ana perlu memikirkannya dulu..."

***

Hari ini, 25 September 2017. Tepat 7 tahun yang lalu, kita ikrarkan janji suci di depan penghulu. Adakah yang lebih berkesan bagiku selain kamu?

Dan kamu tahu, aku mengikuti sebuah komunitas menulis yang memberikan tantangan untuk menuliskan tentang aku dan pengalaman paling berkesan di hidupku. Dan rasanya tak ada bosannya menuliskan tentang kamu. Iya, kamu, Ningsih-ku.

Kamu ingat 7 tahun yang lalu, saat malam pertama kita. Saat pertama kali kamu buka jilbab lebarmu di depanku. Saat pertama kata manjamu kepadaku.

"Ukh, boleh nanya, mengapa dulu Ukhti menolak ana?"

"Kan ana sudah bilang, ana memang belum siap, Akhi."

"Alasan lain barangkali ada?"

Kamu senyum malu-malu. Bahkan panggilan Akhi-Ukhti masih sukar dihilangkan sampai sekian waktu. "Memang ada alasan lain, Akhi...."

"Alasannya apa?"

"Ana tidak suka ada ikhwan kok gondrong rambutnya. Ya, sama sekali ana tidak tertarik sama antum."

Kamu tahu, alasan lugumu itu membuatku nyaris melongo tidak percaya.Ya Allah... rambut gondrongku?!

***

Alhamdulillah, saya menikah dengan istri saya 25 September 2010. Dan hari ini, 25 September 2017 saya 'dipaksa' menuliskan ini sebagai pengalaman paling berkesan bagi saya, spesial untuk ODOP Batch 4. Semoga berkenan...

Get notifications from this blog

41 komentar

  1. Wah, selamat ya mas. Bacanya bikin saya ikut seneng. Semoga rumah tangganya bisa terus sakinah mawaddah warohmah. Akin.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Iya. Tapi komennya 1 kali aja.
      Iya. Tapi komennya 1 kali aja.

      Hapus
  3. MasyaAllaaah....keren sekali tulisannya.. selamat dan semoga pernikahannya selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah 🙏🏻

    BalasHapus
  4. Ma syaa Allah so sweet sekaliiiiiii

    BalasHapus
  5. Subhanallah...
    Enak banget bacanya, ngàlir, dan penuh romantisme

    Bak melihat Azzam dalam novel KCB yang mencari jodoh tapi gak ketemu2, akhirnya dijodohkan kembali dengan wanita yang sedari awal dicintainya.

    Tapi ini real dan saya suka.
    Bagi saya pribadi mungkin ini kado pernikahan yang super memorable.
    :)

    Tantangan Kali ini berhasil!
    Bahkan hasilnya di luar yang kami perkirakan...

    Good Job!

    Semangat NgoDOP!!!

    BalasHapus
  6. Silakan baca karya anak ODOP berikutnya di link berikut:

    https://atikahbakir.wordpress.com/2017/09/25/aku-dan-pengalaman-terbaik/

    BalasHapus
  7. Pagi2 dibuat laper bin baper.

    Penuturannya bagus. 👍

    BalasHapus
  8. Ah, pingin jadi kayak Ukhti Ningsih. Apa belum telat? 😿
    Bagus sekali kak ceritanya, hati pembaca juga ikut membaca, bukan cuma lisan.👍

    BalasHapus
  9. Subhanallah bacanya bikin deg degan juga ikut seneng😊 selamat ya mas, akhirnya bisa dapetin bidadarinya

    BalasHapus
  10. Masya Allah kerennn, jodoh emang nggak kemana ya...
    :) :)

    BalasHapus
  11. Subhanallah ... Semoga pengalaman Anda menjadi inspirasi buat yang lain. Bukan soal rambut gondrongnya, tapi kesiapan serta tujuan menikahnya :)

    BalasHapus
  12. Subhanallah....akhirnya berjodoh juga. Saya pun dulu pernah menolak ikhwan berambut gondrong, entah kenapa ya? Tapi memang gak suka aja.

    BalasHapus
  13. Masyaallah ...
    Cerita nyata emang paling bernyawa nasehatnya.
    Mohon bimbingannya kak

    BalasHapus
  14. Ikut ngebayangin pas diwarnetnya 😅,, Alhamdulillah bs dapetin bidadarinya ya mas,, samawa ya mas 😊😊

    BalasHapus
  15. Ihiyyy... Ikutan senyum2 saya bacanya. Samawa sampai jannahNya ya, Bang.

    BalasHapus
  16. Masya allah,suka banget, enak di bacanya

    BalasHapus
  17. MasyaAllah. Ceritanya mengalir dan benar-benar berkesan. Barakallah kak untuk 7 tahun pernikahannya. Semoga di ridhai dan diberkahi oleh Allah. Aamiin

    BalasHapus
  18. tidak terpaksa kan ya, semua menyenangkan?
    untuk sebuah perjalanan kehidupan, tepuk tangan untuk menghindar dari sekulerismenya. salut.

    BalasHapus
  19. Aku baru baca ini, Ya Alloh.
    .so sweet..barokalloh

    BalasHapus

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.