Halaman Rumah Syamsa: Catatan Kecil
Ketika Teman Menerbitkan Buku

Ketika Teman Menerbitkan Buku


Pernah tahu-tahu di-tag teman yang baru saja launching buku? Bisa itu buku yang memuat tulisan teman kita yang lolos sebuah antologi. Bisa juga tulisan itu adalah buku solonya. Bahkan tag itu menawarkan pre-order pembelian sebelum diterbitkan. Lalu apa reaksi kita? Ada beberapa reaksi yang biasa muncul dari peristiwa ini. Barangkali beberapa reaksi berikut ini bisa kita lakukan menyikapi hal tersebut.

1. Mengucapkan selamat

Harusnya wajib seperti ini. Ucapan selamat dari kita kepada teman adalah bentuk apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Paling tidak kita like postingan promosi mereka.

2. Turut mempromosikan

Ini juga reaksi yang bagus saat mendapati diri dalam tag teman kita tersebut. Membantu promo dengan membagikan kirimannya, atau memposting ulang dengan merekomendasikan kepada teman-teman kita yang lain.

3. Membelinya

Harapan dari tag si penulis tentu saja agar kita bersedia membelinya. Membeli berarti menghargai hasil karya teman tersebut. Ini bisa makin mengeratkan hubungan pertemanan. Dan pasti membuat teman kita bersemangat lagi dalam menulis.

4. Jangan sekali-kali minta gratisan

Ini sering saya jumpai pada komentar di postingan pre-order maupun promo buku baru. Adakah yang salah dengan kita minta gratisan bukunya? Ya. Ini kesalahan fatal menurut saya.

Cobalah kita merasakan kalau di posisi teman kita. Baru juga promosi, eh, teman yang diharap ikut membeli malah komentar minta gratisannya. Betapa kasihannya. Apalagi kalau buku terbit secara indie (penerbitan mandiri), yang bahkan harus bayar saat menerbitkannya atau harus beli sendiri kalau si penulis ingin memiliki buku sendiri.

Sebaiknya jangan sekali-kali minta gratisan. Apa kita tidak tahu betapa terjalnya proses penulisan sampai terbit buku itu? Hargailah karya teman, meski kita belum bersedia membeli, jangan sampai meminta jatah gratisan.

5. Buat review di blog kita

Ini adalah support  yang bagus sebagai teman. Setelah membeli dan membacanya, buatlah ulasan tentang buku itu dan post di blog pribadi kita. Buat semenarik mungkin dan komporin pengunjung blog agar ikut membelinya.

6. Doakanlah

Doakan agar laris. Doakan agar lekas menerbitkan lagi buku-buku berikutnya. Doakan rezeki teman kita kian bertambah. Doakan teman kita agar bisa konsisten menekuni dunia kepenulisan agar bisa menginspirasi dunia dengan pena dan bermanfaat bagi semua.

Nah... jangan salah, ya, dalam bersikap. Bahagiakan teman kita agar kita pun berbahagia. Semoga dengan melihat teman kita berkarya, maka bisa jadi pelecut diri kita untuk turut menelorkan karya kita.
Hati-Hati Salah Bicara di Grup WhatsApp

Hati-Hati Salah Bicara di Grup WhatsApp


Saya yakin, siapa pun yang memiliki perangkat komunikasi bersistem operasi android pasti menggunakan layanan aplikasi bernama WhatsApp. Itu menjadi penanda betapa WhatsApp sangat sukses menggaet para pengguna untuk meningkatkan trafik data aplikasi populer ini. Kemudahan registrasi, tidak perlu pakai PIN segala seperti aplikasi BBM, kontak yang otomatis mendeteksi teman yang juga menggunakannya, merupakan keunggulan WhatsApp yang benar-benar menarik minat setiap orang.

Selain itu, keasyikan ber-WA, begitu WhatsApp biasa disingkat, dengan adanya layanan grup yang sangat seru. Adanya layanan grup dengan banyak anggota yang masing-masing bisa saling berinteraksi di dalamnya, adalah daya pikat tersendiri. Maka tak ayal, seorang pengguna WA bisa dipastikan mengikuti grup yang ada. Baik itu grup komunitas, keluarga besar, alumni sekolah, atau grup kantor tempat bekerja. Semua ada lengkap dan menjangkau siapapun. Tidak sedikit yang mengikuti banyak grup di sana.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kadang kita keasyikan berbalas chat di grup, sampai lupa diri sedang chat di grup mana, lalu kita menulis macam-macam bahkan berghibah atau membicarakan orang lain. Dan sering kejadian, pengguna tidak sadar sedang berada di satu grup dengan orang yang dibicarakan keburukannya. Apa yang terjadi saat kita menyadarinya? Bisa sangat fatal bukan?

Untuk menghindari salah kamar saat chating maka sebaiknya kita tetap waspada. Jauh lebih baik lagi, hindari berghibah atau membicarakan keburukan orang pada setiap chat. Itu lebih baik.

Intinya ketika ber-WA ria kita tetap harus menjaga 'mulut'. Jangan sampai deretan huruf yang kita ketik menjadi boomerang bagi kita. Ingatlah, kata-kata lebih tajam dari pedang. Dan luka karenanya sangat sulit disembuhkan. Lebih baik jadi orang yang bisa menahan diri dari pada menyesal di kemudian hari.

Kadang kita juga suka bercanda tanpa membatasi diri. Ingatlah, tidak semua anggota grup seperti kita yang mungkin enjoy dengan canda tawa. Ketika kita tidak berhati-hati, bisa jadi kita akan menyakiti hati mereka yang tidak sependapat dengan canda kita itu. Maka marilah bijak dalam bercanda.

WhatsApp atau layanan grupnya, seperti sebuah pisau. Ia bisa sangat bermanfaat, di sisi lain bisa menjadi penyebab seseorang tergores luka. Tetaplah berhati-hati.
Tolong, Saya Mengantuk!

Tolong, Saya Mengantuk!


Belakangan ini, saya merasa sering kali mengantuk. Depan komputer ngantuk, baca buku ngantuk, ngobrol ngantuk, dan yang bahaya, naik motor ngantuk. Mengapa, ya, saya kok bisa ngantukan berat seperti ini?

Akhirnya saya googling penyebab mengantuk. Dan dapat beberapa pembahasan. Saya pun mencoba menghilangkan ngantuk dengan ikut membahas tentang mengantuk ini.

Dari web http://www.organisasi.org, saya dapat informasi, bahwa manusia mengantuk disebabkan beberapa faktor:

1. Sudah waktunya tidur.
Saya rasa ini bukan penyebab mengantuknya saya. Masak naik motor ngantuk dibilang sudah waktunya tidur. Tentu faktor ini tidak bisa dibenarkan sama sekali, untuk memaknai kantuk saya.

2. Kurang tidur.
Nah, ini kayaknya juga salah. Saya merasa cukup tidur kok. Mengapa faktor ini dijadikan kambing hitam? Bagi orang lain, mungkin bisa jadi.

3. Otak yang terlalu panas.
Wah..., otak panas? Bayangan saya malah ke hp android yang batrenya mendadak terasa panas gara-gara kebanyakan trafick aplikasi. Hm... bisa juga ya, apakah saya lagi banyak mikir? Tapi mikir apa? Apa mikir penyebab kantuk jadi saya pun mengantuk? Entahlah.

4. Gejala penyakit kencing manis (diabetes).
Wah, jadi ngomongin penyakit? Takut sayanya. Masak sih mengantuknya saya karena penyakit? Oh, tidak. Saya baca penjelasannya, selain sering mengantuk, gejala lain penyakit ini adalah sering kehausan dan sering buang air kecil Yes! Saya tidak. Lewat, dah, faktor menakutkan ini.

5. Gejala kurang darah (anemia).
Wah, makin ke sini kok makin ngomongin penyakit, ya? Kurang darah bikin lemes dan mengantuk katanya. Hem... kurang darah? Apa iya?

6. Olahraga yang porsinya tidak tepat.
Kebanyakan olahraga dengan porsi berlebih akan membuat tubuh berkurang drastis energinya, wah... ini mah nggak mungkin jadi penyebab ngantuk saya. Wong saya jarang olahraga. Eh, penjelasan berikutnya, jarang olahraga ternyata juga membuat orang kurang bertenaga yang mengakibatkan kantuk! Jiah, ini jangan-jangan benar, saya jarang olahraga!

Hm..., pembahasan soal mengantuk sudah selesai. Terima kasih buat yang menulis artikel di http://www.organisasi.org. Saya jadi sadar, saya kurang olahraga. Tapi, setelah nulis ini, saya tidak mengantuk lagi. Eh, apa menulis termasuk olahraga juga, ya? Entahlah... Mungkin ada yang bisa bantu jawab?
Inilah 7 Langkah Taktis Agar Cerpen Lolos Redaktur Media Cetak

Inilah 7 Langkah Taktis Agar Cerpen Lolos Redaktur Media Cetak


Bagi seorang penulis, baik pemula atau yang sudah kawakan, pasti selalu ingin buah karyanya dibaca banyak orang. Salah satu cara agar banyak pembaca tentu saja dengan memublikasikannya di media cetak, baik itu koran atau pun majalah.

Untuk menembus koran atau majalah memang tidak mudah, tapi juga bukan hal mustahil karena memang media cetak tersebut juga membutuhkan karya terbaik para penulis untuk dimuat di sana. Kita perlu memperhatikan beberapa langkah taktis untuk bisa mendapatkan peluang besar dimuat di media massa.


Dalam sebuah buku berjudul Menulis Kreatif Itu Gampang!, karya Sri Wintala Achmad, terbitan Araska Publisher, Yogyakarta, penulis merumuskan paling tidak 7 pedoman langkah taktis yang bisa kita jadikan acuan dalam mengirimkan naskah ke media massa.

1. Ditulis dengan Rapi

Menurut Sri Wintala Achmad, redaktur sastra media massa tentu memiliki tingkat kesibukan tinggi, apalagi jika karya yang masuk ke mejanya banyak sekali. Labgkah taktis paling awal yang harus kita persiapkan, adalah dengan mengirimkan naskah yang sudah rapi penulisannya. Sudah kita edit semaksimal mungkin masalah penulisan aksara dan tanda baca. Nah, karya bagus dengan kerapian editannya akan berpeluang besar untuk dimuat.

2. Judul Harus Menarik

Saya setuju dengan poin ini. Judul adalah pandangan pertama redaktur atas naskah kita. Gunakan judul semenarik mungkin yang tentu juga harus sesuai isi. Soal penulisan tetap dengan font lebih besar dari pada font isi. Gunakan font kapital dan ditebalkan (bold).

3. Isi Cerita dan Ending harus Menarik

Ini menjadi penting karena memang kualitas tulisan dilihat di sini. Oh, iya, gunakan tema sesuai momentum agar mendapat prioritas untuk dimuat. Misalnya tema wanita saat mendekati peringatan Hari Kartini, tema perjuangan saat menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI, dan sebagainya.

4. Tidak Mengandung Unsur SARA dan Pornografi


Jauhi pemuatan unsur SARA apalagi berbau pornografi. Sekalipun naskah kita bagus, tapi karena melanggar pantangan ini, maka redaktur akan membuangnya ke tempat sampah, karena media massa adalah milik umum yang harus sangat berhati-hati dalam pemuatan naskah.

5. Menyesuaikan Ketetapan Redaktur


Setiap redaktur memiliki ketetapan masing-masing dalam membatasi jumlah halaman yang diperlukan, termasuk misalnya harus spasi ganda, pengaturan kertas A4 dan sebagainya. Hal teknis dari redaktur harus ditaati agar peluang dimuat lebih besar.

6. Mengirin Intensif hingga Redaktur Mengenal Anda

Jadi jangan pernah putus asa. Naskah pertama, kedua, ketiga ditolak, tetaplah terus mengirimkan naskah selanjutnya. Kirimlah misalnya seminggu sekali, maka ketika redaktur mengenal dan mengetahui kualitas kita, maka redaktur pasti memuatnya.

7. Jangan Mengirim Cerpen Baru Sesudah Cerpen Lama Dimuat
Sri Wintala Achmad mengingatkan agar setelah naskah kita dimuat, kita dianjurkan bersabar dan menahan diri. Jangan dulu mengirim naskah baru. Pertimbangan ini karena dalam rentang waktu tertentu, redaktur tidak akan memuat nama penulis sama, tetapi akan memilih menyajikan tulisan karya penulis lainnya yang sudah mengantri.

Itu 7 langkah taktis dari buku Menulis Kreatif Itu Gampang!. Sudah siapkah mencoba mengirimkan naskah ke media massa? Memang tidak mudah tapi bisa kita usahakan.  Betapa kita akan merasakan kepuasan tersendiri saat naskah berhasil menembus media cetak. Apalagi saat honor menulis kita terima.

Yuk, menulis dan terus mengasah kemampuan kita. Semoga kita bisa istiqamah menyampaikan kebaikan dalam karya-karya kita.
Lantunan Seindah Budi; Sebuah Pelajaran Pendidikan Anak

Lantunan Seindah Budi; Sebuah Pelajaran Pendidikan Anak


Bernostalgia dengan lagu lawas, berjudul Seindah Budi. Lagu ini dilantunkan grup band slow rock asal Malaysia yang bernama Why. Asing, ya? Saya yakin memang banyak yang tidak kenal.

Semasa saya masih muda, usia sekolah, saya pernah mendengarkan lagu itu dari kaset tape recorder yang saya pinjam dari teman. Waktu itu saya langsung suka saja dengan lagunya, secara saya memang hobi mendengarkan lagu-lagu dari negeri jiran.

Apa yang menarik dari lagu itu? Bagi saya yang cukup menarik adalah tema yang diusung. Kan biasanya lagu jiran waktu itu isinya paling cinta-cintaan atau rindu-rinduan. Nah ini beda. Isinya sebuah nasihat pendidikan anak. Di akhir lagu diperdengarkan suara celotehan bayi yang tertawa menggemaskan.

Lagu ini diciptakan oleh Salman dengan lirik atau syair lagunya digarap oleh S. Amin Shahab. Asing juga ya nama komposernya, di telinga kita? Saya saja biasanya kenal nama pencipta lagu Malaysia seperti Saari Amri, LY, Baiduri, Rahim Othman, atau Eddie Hamid. Tidak ada nama Salman dan S. Amin Shahab.

Baiklah, kita simak yuk, bagaimana syairnya:

Seindah Budi

Dengan kekerasan
Mana bisa kau mencorakkan
Sehelai sutera
Menjadi sehalus batik indah
Pasti hancurlah ia
Sebelum kau sempat melukiskannya

Dan apatah lagi
Untuk melilin sang sutera
Begitu jua hati
Insan yang disayangi
Dapatkah kita takluki
Jika hati sedingin salji

Belailah ia… sekadarnya
Agar tak terlalu manja
Dan sama-sama kita jaga
Kerna sebatang lilin
Kan bisa terbakar
Istana…

Yang keras kita ukirkan
Yang lembut kita bentukkan
Yang buruk kita warnakan
Hingga jadi
Rupa dan hati
Seindah budi


Bagaimana? Enak banget kan syairnya? Apalagi dilantunkan dengan lagu oleh Why. Sangat menyentuh hati. Dan saya suka. Meski tergantung selera juga, sih. Toh, tidak semua orang menyukai lagu Melayu.

Pada lagu yang dipopulerkan Why pada tahun 1996 ini, kita disuguhi sebuah gambaran tentang sehelai sutera yang diharapkan bisa menjadi sebuah batik indah. Kita harus membuat corak dengan sabar tanpa kekerasan. Lalu melukiskan dan dilanjut melilin. Butuh kesabaran yang berlebih.

Itu penggambaran tentang mendidik anak, yang disampaikan dengan pengibaratan membatik. Kita dinasihati juga agar tidak terlalu memanjakannya dengan belaian sekadarnya saja. Anak ibarat lilin, meski kecil nyalanya sanggup membakar istana. Betul juga, ya...

Yang keras kita ukirkan, yang lembut kita bentukkan, dan yang buruk kita warnakan. Bagaimana kita memang harus mengenali anak, menyesuaikan pada kemampuan dan potensinya. Semua itu demi terbentuknya rupa dan hati yang indah berbudi.

Penasaran dengan lagunya? Atau mungkin sudah pernah mendengarnya? Saya suka waktu mendengarkannya saat masih masa-masa sekolah dulu. Nah, sekarang sudah punya dua anak, saya teringat lagu itu dan mencoba mengunduhnya mp3-nya dari internet. Alhamdulillah ketemu.

Saya bernostalgia, mendengarkan lagi Seindah Budi, meresapi. Dan mencoba menulisnya di sini. Seindah Budi.... Terima kasih Why, Salman dan S. Amin Shahab, atas lagunya yang inspiratif.
Para Jomblo, Kamu Harus Tahu Ini Sebelum Terlambat

Para Jomblo, Kamu Harus Tahu Ini Sebelum Terlambat


Jomblo pada dasarnya adalah orang yang sedang menunggu sesuatu yang indah pada waktunya, alias menunggu jodoh yang dijanjikan oleh Allah Swt. Pada masa ini segala kegalauan akan menghampiri menjadi teman keseharian.

Pertama kita harus meyakini janji Allah Swt, bahwa setiap kita sudah dicatatkan jodohnya. Jodoh seperti apa yang akan kita peroleh, ternyata bisa kita tentukan sejak dini. Ini tergantung ikhtiar kita soal jodoh.

Para jomblo yang terhormat. Mungkin kita selama ini selalu menghayalkan jodoh kita seperti ini, yang bisa begini, yang sederhana, yang tidak neko-neko, dan sebagainya. Bisakah itu kita dapatkan?

Baiklah, para pembaca semua, tulisan kali ini akan sedikit mengulasnya. Semoga bisa dipahami dan diambil manfaatnya.

Saya pernah baca sebuah kutipan yang entah dari mana asal muasalnya, tapi sangat bagus untuk kita pahami. Bunyinya, "Kita adalah gambaran pasangan kita kelak."

Apa maksudnya?

Begini. Kita yang saat ini menunggu jodoh, marilah sejenak bercermin di kaca benggala. Tengok dan kenalilah diri sendiri. Kalau sudah, sesuai kutipan di atas, maka seperti inilah gambaran jodoh yang akan kita dapatkan.

Masih belum paham?

Ketika kita menginginkan jodoh kita adalah seorang gadis yang baik hati. Maka gambaran gadis yang baik hati itu harus ada pada kita, kita harus jadi seorang perjaka yang baik hatinya. Ketika kita mengimpikan jodoh seorang gadis yang shalilah taat beragama, maka gambaran itu harus kita wujudkan pada diri kita, yakni dengan membentuk pribadi kita sendiri menjadi seorang perjaka yang shaleh dan taat pada agama. Jadi, kita adalah gambaran pasangan kita kelak. Gamblang, kan?

Selanjutnya, meski belum mendapatkan jodoh, ternyata kita juga perlu memikirkan lagi jauh ke depan. Soal anak. Heh? Anak? Kan jodoh saja belum dapat!

Pernikahan tentu saja di kemudian hari akan berlanjut dengan keinginan kita mendapatkan keturunan yang baik-baik. Dan para jomblo jangan menganggap ini bukan kapasitasnya untuk dipikirkan.

Mumpung masih jomblo, maka kita harus sudah bersiap untuk memiliki gambaran bagaimana keinginan kita memiliki anak nantinya. Apakah ini tidak terlalu buru-buru? Oh tidak.

Sebagai jomblo kita harus berdoa kepada Allah agar kelak diberi keturunan yang shaleh dan shalehah. Keturunan yang baik akhlaknya. Yang bisa menjadi kebanggaan kita kelak.

Sedikit flashback ke masa dulu, zaman Rasulullah Muhammad Saw. Ingat ketika beliau dicaci bahkan dilempari batu oleh musyrikin di kota Thaif. Saat itu malaikat yang geregetan menawarkan pada beliau untuk menimpakan dua bukit Makkah pada mereka. Tapi apa kata Rasulullah Saw?

Dengan hati lembut lagi penyayang, Rasulullah menjawab, "Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang mau menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (Hadits riwayat Bukhari).

Artinya, Rasulullah Saw berdoa agar ada keturunan baik di masa mendatang bagi mereka. Dan tentu doa ini jauh-jauh hari sebelum akhirnya dari para musyrikin itu nantinya memiliki keturunan justru yang menjadi pembela agama Allah Swt.

Dari kisah tersebut, para jomblo sudah sepantasnya mengambil hikmah bahwa meskipun belum ada jodoh, maka kita harusnya sudah mulai berdoa kepada Allah agar kelak diberi keturunan yang baik, sesuai idaman kita.

Allah yang Maha Mendengar tentu akan mengabulkan doa hamba-Nya yang tulus. Ketika para jomblo meminta kelak diberi keturunan baik, maka Allah pun akan menyiapkan ibu yang baik bagi calon anaknya kelak. Dipadukan dengan ikhtiar kita menjadi pribadi yang baik maka sangat pas sekali, sehingga kita akan memetik indahnya pertemuan dengan calon jodoh kita nantinya.

Para jomblo, apa yang kamu tunggu? Mulailah. Kamu yang harus memulai. Dan harus sejak sekarang. Semoga bermanfaat.

Kayaknya ODOP Ini Nih!

Kayaknya ODOP Ini Nih!


Menjadi seorang penulis. Itu cita-citaku. Atau tetap menulis di saat sedang berprofesi apapun. Intinya, menjadikan aktivitas menulis sebagai ruh kehidupan.

Tapi apa daya saat cita-cita itu berhadapan dengan kenyataan. Kesibukan kerja, mengurusi keluarga, kegiatan kemasyarakatan yang tidak ada habisnya? Wah... kegiatan menulis keok, gugur di tengah jalan.

Rasa Iri Memanggil

Saat mainan internet, buka media sosial, mendadak tertegun menyaksikan kawan maya yang selama ini kukenal juga suka menulis, eh tahu-tahu sudah pamer karya berwujud buku yang diterbitkan major. Wah, aku kemana saja? Iri sekali dengan kawan maya itu.

Belum lagi kalau main ke toko buku atau pun singgah ke perpustakaan. Melihat buku-buku keren bertebaran seperti mengejek kevakumanku dalam menulis. Oh, tidak...! Aku seperti harus berontak. Aku harus bisa menulis seperti mereka! Buku baru tebal ratusan halaman? Waw... kapan namaku tercantum sebagai penulisnya? Kapan?

Di jejaring sosial pun kerap kawan maya yang mengunggah capture karyanya yang dimuat di koran atau majalah. Aku iri dengan mereka. Dan rasa iri itu memanggil lantang. Ayo, kembali berkarya!

Yang Sulit Itu Istiqamah

Beberapa karyaku memang pernah berhasil tembus di majalah atau koran. Tapi itu sebatas 'pernah'. Dan yang kusayangkan, sulitnya menembus lagi. Mentok rasanya. Draft-draft tulisan mengendraft (mengendap maksudku). Ide-ide yang berseliweran kabur terbawa angin malas. Ah... sampai kapan terus begini?

Istiqamah atau konsisten dalam menjalani proses menulis adalah sesuatu yang sangat sulit, sukar, dan benar-benar tidak mudah. Seringnya justru kalah di tengah jalan. Apa yang harus aku lakukan?

Oh, Paksalah Aku!

Aku mulai berpikir, ini semua karena tidak ada yang memaksaku menulis. Padahal menulis butuh 'pemaksaan' agar terasah. Semakin banyak menulis semakin mendidik konsisten. Dan itulah yang mungkin kuperlukan.

Hari-hari berlalu. Lewat begitu saja. Beberapa blog yang kupegang pun terbengkelai. Postingan barunya mana? Aah... ayolah, siapa bisa memaksaku menulis?

Kayaknya ODOP Ini Nih!

ODOP? Ada pendaftaran ODOP? Apaan nih ODOP? One Day One Post? Begitu melihat info ini di Facebook, aku langsung coba googling dan mengunjungi web ODOP. Meski info tentang itu masih sangat minim yang kudapat dari internet, tapi aku berhasil menangkap apa sebenarnya ODOP itu.

Yang kutangkap, itu adalah wadah untuk konsisten menulis. Entah apa dan bagaimana metodenya, tampaknya aku harus ikut! Kayaknya ODOP ini nih yang kubutuhkan. Aku ingin menulis! Aku ingin terus menulis!

Nah, apakah persepsi dan ekspektasiku tentang ODOP ini bakal menjawab segala buntuku? Semoga inilah jalan itu. Welcome, ODOP! Semoga bisa lolos seleksinya. Aamiin...
Keluhan Kelelahan

Keluhan Kelelahan

Duduk di serambi masjid. Menikmati hembusan angin, sepoi yang sungguh nikmat. Menyelonjorkan segala kepenatan, menyandarkan keletihan di dinding masjid.

Lelah. Siapapun pernah mengalami. Manusiawi. Setiap aktivitas pasti akan berpuncak pada kondisi itu. Bahkan orang yang kesehariannya hanya tidur pun juga akan mengalami kelelahan. Iya kan? Saya pernah mengalami kok. :)

Kira-kira adakah hal tertentu yang didapatkan dari hasil jerih kelelahan kita? Seyogyanya memang dari sebuah kelelahan kita bisa memperoleh suatu imbalan. Baik itu berupa uang jika ia lelah karena bekerja mencari maisyah, atau sebuah kepuasan batin bagi yang memang bersusah dengan kreativitas yang menghasilkan karya. Nah, bagaimana jika lelah kita tidak menghasilkan apapun yang bisa membuat kita tersenyum puas akannya?

Bekerja melelahkan tanpa imbalan, misal berdagang keliling tapi sepi pembeli. Membuat sebuah karya seperti melukis tapi hasilnya amburadul. Atau berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk atasan tapi malah mendapatkan marah padahal melelahkan. Nah, bagaimana menyikapi lelah yang seperti ini?
Jebakan Status

Jebakan Status

Facebook menurut saya sama seperti sebuah pisau, bisa bermanfaat dan bisa menimbulkan mudharat. Tak jarang terjadi peristiwa negatif hasil keberadaan Facebook, tapi juga tak sedikit yang mengambil dan menebar manfaat dari adanya jejaring sosial terpopuler di dunia ini.

Saya sering menjumpai status teman-teman, ada curhatan, keluh-kesah, atau apapun suasana perasaan yang diterbitkan dalam status tersebut. Sah-sah saja kita seperti itu, bahkan mungkin menjadi orang yang super update, ada apa-apa tulis status, siapa tahu ada yang mampir komentar.

Ada kala saya membaca status teman yang mencoba menunjukkan salah satu amal ibadah yang ia lakukan. Dari status tersebut bisa saja satu-dua atau banyak teman lain yang ikut termotivasi untuk berbuat kebaikan sebagaimana yang dilakukan teman tersebut. Ambil misal status teman yang menulis, "Gerah banget, memang ujian puasa senin-kamis begini sangat sulit, tapi harus tetap kuat, bentar lagi kan magrib datang juga."