Halaman Rumah Syamsa: Kepenulisan
Rambu Pemaknaan Ulang Karya Ala Farrahnanda

Rambu Pemaknaan Ulang Karya Ala Farrahnanda


Sebenarnya ini resume dari Kelas Fiksi komunitas ODOP batch 6 pada Minggu, 23 Desember 2018 silam. Ketika itu, Aa Yoga Palwaguna menghadirkan Mbak Farrahnanda sebagai bintang tamu, sharing terkait dunia kepenulisan yang digelutinya.

Mbak Farrah adalah editor freelance di Penerbit Basabasi. Obrolan sarat ilmu ini diawali dengan pancingan Aa Yoga bahwa ia sering mengalami, ketika sedang menikmati sebuah karya, tiba-tiba mendapatkan inspirasi untuk membuat sesuatu berdasarkan karya itu. Nah, sejauh manakah itu bisa kita lakukan, agar tidak terjebak plagiat. Rambu-rambu apa aja yang mesti diperhatikan.

"Pertama-tama, mari sadari bahwa karya hanyalah seonggok teks/gambar/audio/gambar bergerak tanpa adanya pemaknaan dari pembaca/penonton/pendengar," Mbak Farrah memulai jawabannya. "Kata-kata yang aku tulis ini pun hanyalah teks tak bermakna, kalau tak ada pembaca yang berusaha memaknai maksud di balik kata-kataku ini."

Menurut pengasuh Klub Buku Yogya periode 2017-sekarang ini, orang-orang yang membuat karya itu mempunyai tanggung jawab sebatas pada karya tersebut, bukan pada pemaknaan orang lain terhadap karya mereka. "Sementara kita tahu, ratusan atau ribuan penikmat karya tersebut, pastilah terisi dari referensi yang berbeda. Misal, ketika membaca kata 'bunga', seorang anak ekonomika/bisnis bisa saja lsg membayangkan bunga (rate) dalam bentuk persentase, sedangkan anak agrikultur membayangkan sebenarnya bunga. Jadi, pemaknaan kata bunga tadi jelas tidak bisa seragam. Dengan asumsi kata tersebut tidak diawali atau diakhiri kata lain dan tidak dalam konteks tertentu."

Keragaman pemaknaan inilah yang membuat sebuah karya akan lebih hidup lagi jika mendapat respons dari pembaca/pendengar/penonton, dalam bentuk apa pun. Bisa dalam bentuk kritik, resensi, atau pembuatan karya serupa.

"Pemaknaan ulang ini bisa dalam macam-macam bentuk. Ketika menulis ulang cerita Sangkuriang dengan membuat cerita tersebut jadi relevan dengan konteks zaman, ini juga bisa disebut pemaknaan ulang," kata Mbak Farrah lebih lanjut, "Apakah ini diperbolehkan? Apakah tidak melanggar hak cipta? Lalu, apa bedanya dengan plagiat?"

Penulis buku Partitur Dua Musim terbitan DeTeens ini menyampaikan bahwa ada banyak pendapat tentang plagiarisme dalam berkarya. Menurutnya, plagiat hanya bisa distempel ke sebuah karya ketika tidak ada usaha untuk melakukan pemaknaan ulang atas karya tersebut. "Misal, jelas-jelas copy-paste sama persis. atau hanya mengubah susunan adegan tapi inti cerita tidak ada yg berubah. Inilah plagiat," tandasnya.

Mbak Farrah menegaskan memang tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini. Secara sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukan repetisi atau pengulangan atas karya lain, apalagi yang jelas cukup memukau bagi kita. "Ini sebetulnya beda bahasan, tapi karena relevan, bisa kuambil sebagai contoh. misal: Life of Pi pun konon terinspirasi cerita dari penulis lain yang justru kalah pamor dari Life of Pi. Garis besar kedua cerita tersebut mirip, tidak disebutkan sebagai karya plagiat tapi kita tahu kalau referensi Life of Pi adalah karya tersebut," jelasnya panjang-lebar.

Kasus semacam ini masih dalam perdebatan. Menurut Mbak Farrah, ketika kita meminjam cerita seperti ini kemudian mengganti nama tokoh dan latar tanpa ada usaha pemaknaan ulang, ini yang tidak bisa dibenarkan.

Setuju tidak setuju, beberapa karya baik mempunyai kecenderungan utk memantik respons penonton/pembaca/pendengarnya. Tapi karya yang tidak menginspirasi pun belum tentu itu tidak baik, bisa aja saking baiknya suatu karya satu-satunya cara meresponsnya adalah dengan membiarkan karya tersebut sebagai apa adanya.

"Pokoknya begini saja," ia menyimpulkan. "Selama yang dibuat merupakan hasil pemaknaan ulang, karya tersebut jelas bukan plagiat. Ranah selain itu masih diperdebatkan."

Penjelasan yang cukup mencerahkan. Ilmu yang dibagikan Mbak Farrah sangat bermanfaat. Sukses selalu, ya, Mbak. Semoga semangat Mbak pun menjadi inspirasi bagi siapa saja. Bagi teman-teman yang ingin kenal Mbak Farrahnanda lebih dekat bisa kepoin Twitter dan Instagram-nya, @farrahnanda. Atau kulik saja blognya, http://farrahnanda.blogspot.com. Kalau mau belajar menulis dengan membaca karyanya, teman-teman bisa baca buku-buku Mbak Farrah yang sudah terbit: Alles Liebe (DeTeens, 2013), Beautiful Nightmares (DeTeens, 2013), Perfection (Ice Cube, 2015), dan yang terbaru Konstelasi dan Cerita-Cerita Lain (Basabasi, September 2018). Siapa tahu, bisa mengikuti jejaknya.
Selamat Jalan Nh. Dini

Selamat Jalan Nh. Dini


Sebuah kabar duka dari dunia sastra Indonesia, Nh. Dini meninggal dunia. Pesan demi pesan di grup-grup kepenulisan WhatsApp yang mengabarkan kepergian penulis novel bernama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin itu.  Penulis novel Pada Sebuah Kapal itu meninggal dunia setelah mobil taksi yang ditumpanginya kecelakaan di Tol Tembalang KM 10, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 4 Desember 2018 pukul 16.30. Mengalami luka di bagian kepala dan kaki kanan, sempat mendapat perawatan medis di RS Elisabeth Semarang sebelum takdir menentukan, nyawanya tidak tertolong.

Nh. Dini berpulang dalam usia 82 tahun, semasa hidup sangat produktif dalam menulis. Penulis kelahiran Semarang, 29 Februari 1936 ini meninggalkan dua orang anak Marie-Claire Lintang Coffin dan Pierre Louis Padang Coffin, seorang kreator Minions, hasil pernikahan dengan Yves Coffin, yang berakhir dengan perceraian pada 1984.

Nh. Dini pernah mendapat penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand. Beberapa karya terkenal Nh. Dini di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Hati yang Damai (1998). Lebih dari 20 buku telah ditulisnya.

Sebuah kehilangan besar bagi dunia sastra kita. Tapi karya Nh. Dini tetap abadi di hati para pecinta tulisannya. Selamat jalan, Nh. Dini. Telah sampai engkau pada sebuah kapal terakhir dalam perjalananmu.
Imelda Saputra: Jadi Penulis Itu Bukan Bakat, Tapi Latihan!

Imelda Saputra: Jadi Penulis Itu Bukan Bakat, Tapi Latihan!



Pada hari Rabu, 19 September 2018 dimulai pukul 20.00 WIB, ada tamu spesial pada acara Bincang Penulis #2 di WhatsApp Grup Komunitas One Day One Post, yakni kehadiran Mbak Imelda Saputra. Dia adalah penulis yang sudah menerbitkan belasan buku motivasi, dan tentunya banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perbincangan dengannya.

"Saya mulai menulis dari tahun 2005," katanya memulai. Penulis kelahiran 20 Desember 1984 ini mengakui, memang karyanya lebih banyak berupa buku motivasi atau inspirasi. "Royalti atau honornya cukuplah, bisa bantu orangtua cicil mobil, renovasi rumah, bahkan jalan-jalan ke luar kota bahkan luar negeri."

Mbak Imelda sengaja mengungkapkan benefit menulisnya agar peserta jadi semangat dalam menulis. "Asal bisa bikin buku bagus dan bermutu, pasti dampaknya oke," katanya.

Penulis My Unforgettable Experience,  Sejuta Warna, Inspirasi 5 Menit, dan deretan buku motivasi lainnya ini mengungkapkan bahwa menulis itu tidak perlu bakat, tidak musti punya bakat dulu. "Di keluarga saya cuma saya yang jadi penulis. Tidak ada keturunan penulis. Intinya adalah latihan setiap hari. Percuma kalau punya bakat tapi tidak dilatih. Sebaliknya, tanpa bakat tapi disiplin komitmen mau terus belajar, pada akhirnya pasti bisa."

Mbak Imelda kemudian memberikan contoh saat mau menulis artikel inspirasi. "Mulai dengan ilustrasi, bisa dengan dongeng, kisah sukses, kisah inspirasi, hasil penelitian, dan lain-lain. Memulai dengan ilustrasi akan membuat tulisan jadi lebih kuat."

Setelah ilustrasi, jelasnya, dapat menentukan tema mau dibawa kemana. "Saya banyak nulis juga tentang market place jadi saya giring ke habit, bahas tentang uang, sikap perilaku, dan lain-lain. Paragraf ketiga aplikasi, dan akhiri penutupnya dengan quote yang menarik."

Untuk pemilihan judul juga harus menarik dan bikin penasaran baca sampai akhir. Untuk ilustrasi, hindari yang sudah terlalu sering orang pakai kayak cerita KFC, Michael Jordan, Thomas Alva Edison. "Kecuali kita mau bahas yang berbeda, misal bukan tentang kegagalan, tapi tentang hidup mereka dari sisi yang lain."

Mbak Imelda juga mengingatkan agar penulis memperhatikan ejaan dan jangan sampai salah ketik, penulisan huruf besar mesti sesuai kaidah. "Banyak baca dari koran, buku, atau internet. Dengarkan radio. Perlu juga ikuti seminar biar wawasan bertambah. Semakin banyak input maka semakin banyak pula outputnya," sarannya.

Saat ditanya spesialisasinya menulis motivasi dan inspirasi, Mbak Imelda mengatakan bahwa setiap orang punya titik kuat dan nilai plus yang mungkin orang lain tidak bisa, dan di dunia penulisan motivasi itulah dia merasa harus mendalami dan tidak minat melirik yang lain. "Sukanya apa? Kalau menulis itu bisa mengalir dengan mudah, tekuni saja," katanya.

Banyak sekali pelajaran motivasi dari obrolan bersama Mbak Imelda. Ketekunan, keseriusan, disiplin, semangat yang kuat, sangat diperlukan bagi para calon penulis. Sekali lagi, singkirkan pikiran bahwa bakat menjadi penentu. Latihan dan terus latihan itu kuncinya. Jangan mudah patah semangat!

Terima kasih Mbak Imelda, atas sharing-nya yang sangat bermanfaat. Sukses selalu, ya!



Bahayanya Bakat Menulis

Bahayanya Bakat Menulis


Sabtu malam, 1 September 2018, di grup WhatsApp NAC (Nulis Aja Community) salah satu program lanjutan ODOP untuk anggota yang ingin menulis buku solo, ada kelas dengan tema "Proses Kreatif Menulis" yang disampaikan oleh Mbak Dymar Mahafa.

Dalam penyampaiannya, ada salah satu pembahasan yang sempat membuat saya terhenyak. Mbak Dymar menukil tulisan John M Watson dalam Complete Guide to Magazine Article Writing, yang mengatakan bahwa bakat justru merupakan hal yang paling berbahaya dan merusak, jika kita tidak berhati-hati menerapkannya.

Mbak Dymar menjelaskan, bagi penulis pemula, ketika dia merasa memiliki bakat dalam hal tulis menulis, maka akan ada kecenderungan merasa mampu, bangga diri, tepuk dada dan melambung, hingga sesumbar bahkan jumawa. Seolah bakat menulisnya adalah segalanya, sehingga merasa bahwa menulis akan mudah saja dengan kemampuannya.

"Padahal kehidupan dan pengetahuan terus berjalan dan bertambah. Sehingga bukan nggak mungkin dia akan disalip oleh pribadi-pribadi yang tekun dan telaten, para calon professional," kata pemilik blog Dunia Dymar ini.

Menurutnya, ada baiknya setiap calon penulis memahami berbagai tehnik penulisan dalam ragam jurnalistik. Pemahaman itu sama pentingnya dengan kebutuhan akan impuls/rangsang kreatifitas di setiap penulisan artikel. "Nulis fiksi juga demikian," lanjutnya, "Pahami tehnik tulisan fiksi dengan baik."

Bagi Mbak Dymar, latihan terbaik adalah menulis, dan terus menulis. "Mungkin awalnya bisa dengan sedikit 'meniru' penulis lain, yang dikagumi atau yang cocok dengan sense kita. Tapi kemudian temukan kepribadian menulis teman-teman sendiri," demikian katanya.

Jadi, sudah jelaslah, sangat berbahaya jika kita merasa punya bakat dalam kepenulisan, sehingga rasa sombong untuk menerima ilmu baru akan menutup peluang kita untuk maju. Sekali lagi, kita bisa tertinggal dan disalip jauh oleh pribadi-pribadi yang tekun dan telaten, mereka itulah para calon professional.

Masih percaya menulis dan bakat adalah teman baik? Bolehlah kita tahu bakat kita di situ, tapi tetaplah berhati-hati dari kenyamanannya. Tetap harus mempelajari tehnik-tehnik menulis, dan senantiasa terbuka menerima masukan dan asupan-asupan ilmu baru.

Terima kasih, Mbak Dymar, atas materinya yang keren. Sukses selalu, ya!


Jago Nulis Bukan Jaminan Lulus ODOP

Jago Nulis Bukan Jaminan Lulus ODOP



Menjadi peserta One Day One Post Community, memang bukan perkara mudah. Ketika setiap hari harus menyetor tulisan, tidak peduli sedang mood menulis ataukah tidak. Sejak awal pembukaan di setiap batch, sudah mulai satu persatu peserta yang berguguran. Ini menunjukkan memang bukan hal yang mudah mengikuti aturan di komunitas kepenulisan yang satu ini.

Dalam sambutannya kepada peserta batch baru, pencetus komunitas ini, Bang Syaiha, menyampaikan bahwa memang ODOP bukan tempat yang paling ideal untuk belajar menulis. Komunitas ini banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. "Terimalah ODOP apa adanya," kata beliau, "karena kalau nyari yang sempurna, nanti malah nggak dapet-dapet, loh ...." (Anjuran yang bagus juga buat para jomblowers, red.).

Menurut Bang Syaiha, terkadang kesempurnaan itu akan datang ketika kita sudah bisa membuka hati terhadap apa pun yang kita terima. "Jadikan ODOP sebagai tempat sarana belajar, bukan sarana bangga-banggaan."

Founder ODOP ini menyadari peserta batch baru tidak hanya dari kalangan pemula banget, beberapa peserta bahkan banyak yang sudah malang-melintang di dunia kepenulisan, menjuarai lomba-lomba dan karyanya dimuat di media massa. Maka Bang Syaiha mengingatkan, "Kalau nanti ada pengisi yang mungkin, menurut kamu biasa saja, maka dengerin aja lah."

Bang Syaiha meningatkan pada perkataan Imam Syafi'ie, "Saya akan duduk khidmat mendengarkan sebuah ilmu, seperti orang yang baru pertama kali mendapatkannya, walau sebenarnya saya sudah ribuan kali memahami ilmu itu."

"Kita sama-sama belajar. Sama-sama berbenah," pungkasnya. "Terimalah apa pun yang akan disuguhkan para pije nanti ...."

Dari apa yang disampaikan Bang Syaiha, maka saya merasa perlu menggarisbawahi, mengikuti ODOP sekali lagi bukan perkara mudah. Saya bahkan berani mengatakan, seseorang yang memang sudah jago dalam menulis, belum tentu dia mampu bertahan di ODOP sampai kelulusan. Di ODOP dituntut untuk menulis setiap hari, menerima materi kepenulisan, menulis tantangan yang diberikan, saling membaca karya teman lewat blog walking, saling bedah karya di grup masing-masing, dan sebagainya. Ritme yang harus diikuti menuntut keseriusan, konsekuensi, dan keterbukaan hati dalam menerima segala masukan.

Peserta yang sudah wara-wiri di dunia kepenulisan bisa jadi punya masalah dengan konsistensi menulis harian, bahkan ada satu-dua yang merasa di ODOP dia lebih dari peserta lainnya, sehingga apa yang diatur oleh para PJ dianggap remeh. Perasaan merasa lebih ini harus ditiadakan di sini, sebagaimana saran Bang Syaiha.

Para peserta yang benar-benar newbie jangan pernah merasa minder. Ikuti saja semua aturan main di ODOP. Jangan suka hutang tulisan kalau tidak mau merasakan berat. Pupuk semangat dengan membaca karya teman yang lain. Selalu terbuka menerima ilmu apa pun.

Ada nggak peserta yang sudah jago nulis tapi gugur di ODOP? Ada. Ada nggak peserta yang benar-benar awam tapi lulus di ODOP? Banyak. Jadi, jago menulis bukan berarti mudah lulus di ODOP. Meski seharusnya yang jago menulis lebih mudah menghadapi tantangan harian. Suatu paradoks yang tidak bisa dimungkiri.

#30DWCday21
Belajar Non Fiksi bersama Mbak Nova

Belajar Non Fiksi bersama Mbak Nova



Pada hari Senin, 29 Januari 2018, di grup besar WhatsApp One Day One Post Batch 5, berlangsung kelas Non Fiksi yang dimulai pukul 20.00 WIB sampai selesai. Materi disampaikan oleh seorang kartini masa kini yakni Mbak Nova, pemilik blog http://nodiwa.com. Dan alhamdulillah saya bisa mengintip ke sana meski jadi silent reader.

Mbak Nova memulai dengan menjelaskan pengertian dari jenis tulisan yang beliau pilih. "Non fiksi adalah sebuah tulisan yang dibuat berdasarkan fakta, realita atau hal-hal yang benar-benar terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Non fiksi adalah karya seni yang bersifat faktual. Hal-hal yang terkandung di dalamnya adalah nyata. Informasi, data dan fakta dalam tulisan non fiksi harus dipaparkan dengan benar tanpa rekayasa atau ditambahi imajinasi penulis."

Kemudian blogger yang tinggal di Nganjuk, Jawa Timur ini memberikan beberapa contoh yang termasuk tulisan non fiksi. "Artikel, review, reportase, dan opini adalah contoh jenis ini," kata beliau.

Dari pemaparan perempuan yang kesehariannya mengenakan seragam PNS untuk bekerja di Pemda Kabupaten Nganjuk ini, bisa disimpulkan ciri-ciri tulisan non fiksi antara lain :

1. Ide tulisan jelas, logis dan dipaparkan secara sistematis
2. Berisi informasi sesuai fakta
3. Penggunaan kata-kata yang baku sesuai Ejaan Bahasa Indonesia

"Membuat curhatan kita menjadi lebih terlihat elegan sebagai tulisan non fiksi, ya antara lain jangan terlalu banyak menggunakan kata-kata lebay, kalimatnya harus positif, dan pesan tersampaikan," jelas ibunda dari Rafa ini.

"Intinya ya menulis saja. Baca ulang. Ada nggak kalimat yang bikin bosan atau terkesan menggurui. Kalau kita saja bosan baca tulisan sendiri, bagaimana dengan orang lain?" Salah satu tips yang disampaikan Mbak Nova.

Ketika adanya peserta yang bertanya apakah non fiksi harus selalu menggunakan kalimat yang baku, beliau menjawab, "Menurutku tergantung ya. Misal untuk penulisan karya ilmiah harus menggunakan kalimat baku. Tapi untuk artikel, feature, bolehlah ada kalimat tidak baku. Tapi porsinya dibatasi."

Mbak Nova menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta dengan baik dan runut. Saya sendiri yang cenderung ke dunia fiksi memang berusaha menimba ilmu langsung dari beliau yang seorang pembelajar tulisan non fiksi. Paparan beliau sangat bermanfaat. Terutama buat saya, ceritanya balada anak fiksi berguru ilmu non fiksi. Hehehe ....

#30DWCday20
Sharing Setting bersama Shabrina Ws

Sharing Setting bersama Shabrina Ws


Postingan kali ini, saya masih ingin berbagi cerita tentang kehadiran bintang tamu di Kelas Fiksi kemarin malam (16/01/2018). Iya, saat Mbak Shabrina Ws menyempatkan waktu untuk anak-anak ODOP Batch 4.

Seperti sudah saya singgung di postingan kemarin, bahwa Mbak Shabrina Ws sharing tentang setting dalam tulisan fiksi. Tahu, kan apa itu setting? Setting itu latar, jadi Mbak Shabrina Ws bercerita proses kreatif beliau dalam menuliskan setting dalam karya-karya beliau. Setting yang bagus itu harus benar-benar membawa pembaca ke dalam cerita. Kalau menulis setting tempat yang seram tentu harus bisa menakuti pembacanya. Hihi....

Salah satu setting novel karya Mbak Shabrina Ws yang berjudul Always Be in Your Heart adalah Timor Leste ketika peristiwa referendum 99. "Novel itu memerlukan riset panjang," kata Mbak Shabrina Ws. Cara menetukan dan mengenal setting dengan riset bisa lewat internet, film, atau pun buku dan foto-foto. "Saya beli buku Timor Timur Satu Menit Terakhir dan Kamus Tetun-Indonesia," ungkap beliau.

Mbak Shabrina juga mengungkapkan ketika menulis novel Betang: Cinta yang Tumbuh dalam Diam, beliau membeli buku Tjilik Riwut Kalimantan Membangun dan Manaser Penatau Tatu Hiang. "Waktu itu saya juga berkenalan dengan atlet pelatnas karena ini novel tentang dayung. Juga berulang kali menonton tayangan dayung di Youtube," kisah beliau.

"Dalam novel Ping, saya mengumpulkan banyak foto orangutan, pergi ke bonbin, taman safari, dan tentunya membaca buku tentang orangutan. Sementara di nove Sauh, setting di Pacitan, jadi saya sambil mengingat, namun banyak hal tetap saja saya membaca dan bertanya untuk melengkapi info," lanjut Mbak Shabrina semangat, "Intinya, riset setting adalah hal yang menyenangkan. Jangan lelah. Karena saat kita membaca dan menemukan sesuatu bisa jadi kita mendapat ide baru juga."

Mbak Shabrina Ws mengisahkan, awalnya Always Be in Your Heart hanya satu novel, tapi seiring menemukan hal-hal baru akhirnya berkembang menjadi satu cerita bersambung, enam cerpen dan sepuluh puisi.

"Kata Jakob Sumardjo, setting dalam fiksi bukan hanya background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian. Tetapi setting yang kuat adalah yang menjadi unsur cerita itu sendiri. Yang berjalinan erat dengan karakter, tema, dan suasana cerita," jelas penulis penyuka pagi ini.

Untuk menilai apakah setting kita integral, kata Jakob, kita dapat ajukan pertanyaan:

1. Dapatkah setting diganti tempat lain tanpa mengubah isi cerpen/novel?
2. Sejauh mana setting menentukan tema/plot?
3. Sejauh mana setting membentuk watak yang tidak dihasilkan daerah lain?

"Jadi, setting dan cerita yang berhasil adalah, ketika setting dipindah, maka cerita akan berantakan," simpul beliau. "Misalnya, setting saya Timor Timur 99 akan berubah total cerita saat saya pindahkan keSingapura."

Demikian Mbak Shabrina menjelaskan dengan sangat lengkap proses kreatif beliau dalam menulis setting. Saya akui, saya sangat lemah dalam membuat deskripsi setting. Tampaknya saya harus banyak berlatih untuk ini. Harus gigih dan tidak boleh gampang menyerah. Ibaratnya berlatih 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Intinya, jangan ada kata menyerah. Semoga bisa mengikuti jejak kesuksesan Mbak Shabrina Ws. Aamiin...

#30DWC Day7
Tips Mengatur Waktu Menulis Ala Shabrina Ws

Tips Mengatur Waktu Menulis Ala Shabrina Ws



Ceritanya, malam ini, 16/01/2018 Kelas Fiksi komunitas One Day One Post kedatangan tamu seorang penulis, yakni Mbak Shabrina Ws. Beliau berkenan meluangkan 2 jam waktunya untuk sharing pengalamannya dalam menulis. Beliau menyampaikan materi tentang setting. Dan alhamdulillah saya bisa mengikuti kelas kali ini dengan baik, lancar, dan nyaman. Meski jam dimulai pukul 20.00 - 22.00 WIB dengan cuaca hujan di kampung saya. Saya benar-benar kesurupan ilmu yang disampaikan beliau.

Saya tidak akan membahas tentang materi yang beliau sampaikan di kelas. Tetapi ada hal menarik yang ingin saya culik dari penyampaian Mbak Shabrina Ws. Oh, ya, sedikit informasi, bahwa beliau ini termasuk penulis yang cukup produktif. Artikel, puisi, dan cerpennya sudah bertebaran di media massa. Untuk karya yang dibukukan antara lain: Kerlip Bintang-Bintang (2004), Sketsa Negeri Para Anjing (2006), Pelari Cilik (2010), Sakti dan Sapi Rebo (2011), Ping, a Message from Borneo (2012), Always Be in Your Heart (2013), Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam (2013), Lesus dan Kisah Becak-Becak (2014), Deling dan Hari-Hari Menegangkan (2014), Rahasia Pelangi (2015), Dongeng dan Fakta Unik Binatang (2016), Kalender 366 Kata Mutiara (2016), Karena Hidup Hanya Sebuah Persinggahan (2017), dan yang paling gres adalah novel Sauh (2018).

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bernama Wiwid (hallo, Mbak Wid), menanyakan bagaimana cara Mbak Shabrina Ws bisa mensiasati agar tetap konsisten menulis, meski sibuk menjadi seorang ibu. Pertanyaan bagus sekali. Ini juga bisa diambil manfaatnya untuk par calon penulis, tidak hanya yang menjadi ibu-ibu. Dan apa jawaban beliau?

1. Membuat membuat jadwal harian dari bangun tidur sampai tidur lagi.
2. Menulis saat anak-anak sekolah.
3. Membuat jadwal membaca dalam seminggu.
4. Tidak mau keluar rumah (yang mengganggu jadwal harian) tanpa rencana.
5. Keluar rumah seminggu 2 kali.
6. Jangan mudah menyerah.

Enam poin yang saya catat dari jawaban Mbak Shabrina itu sangat bagus sekali. Saya tertarik akan jawaban beliau ini. Membuat jadwal harian merupakan bentuk usaha agar konsisten dan disiplin. Menulis butuh kedisiplinan dan waktu khusus. Dalam hal ini, sebagai ibu rumah-tangga, beliau memilih waktu ketika anak sekolah. Kemudian adanya jadwal membaca, juga adalah sebuah kesatuan tidak terpisahkan. Menulis dan membaca adalah kesatuan. Penulis yang baik harus menjadi pembaca yang baik, ini menurut saya. Hal lain yang sering kali mengganggu adalah keluar rumah dan mengabaikan jadwal harian. Ini harus disiasati, jangan sampai keluar tanpa rencana. Dan beliau menyediakan 2 kali waktu dalam seminggu untuk acara keluar.

Sebuah tips sederhana yang sangat bagus jika bisa diterapkan. Semoga apa yang disampaikan Mbak Shabrina Ws ini bisa menginspirasi siapa saja. Kedisiplinan memang sangat diperlukan agar seorang penulis bisa konsisten berkarya dan produktif. Semoga bermanfaat.

#30DWC Day6


Lompatan 2017 Menuju 2018

Lompatan 2017 Menuju 2018


Resolusi? Setiap jelang pergantian tahun, pasti akan banyak manusia menuliskan resolusi yang akan dicapai di tahun yang akan tiba. Segala macam target yang akan diraih, cita-cita yang harus diwujudkan, keinginan kuat yang dituju. Dan semua itu diharapkan menjadi penguat diri agar bisa merealisasikan semua yang dijadikan list resolusi.

Pentingkah? Saya sendiri belum pernah menargetkan resolusi tahunan seperti itu. Lalu apa saya harus ikut-ikutan membuat resolusi? Jujur saya lebih suka melalui hari-hari dengan jalan apa adanya, mengalir seperti air.

Belakangan ini saya mulai berpikir tentang penting nggak pentingnya menulis resolusi seperti yang dibuat orang-orang, para sahabat, dan teman-teman maya. Saya memang sudah melalui tahun demi tahun dengan tidak menargetkan apa-apa. Dan, apa saja yang saya jalani dan saya dapatkan ya tidak pernah saya gambarkan. Akhirnya, saya menjumpai juga keterbengkalaian apa-apa saja yang pernah saya impikan. Dan itu terbengkalai karena saya tidak menguatkan tekad untuk mencapainya.

Tahun 2018. Tidak terasa sudah di depan mata. Sedihnya saya yang pernah mimpi bisa menyelesaikan novel ternyata sama sekali tidak kesampaian. Nampaknya tahun 2018 saya harus menargetkannya. Ya, saya mulai berpikir untuk menjadikannya resolusi agar tercapai!

Terus... betapa sepinya karya saya yang lolos ke media massa. Belakangan ini saya belajar konsisten menulis di komunitas One Day One Post. Dan semangat itu muncul lagi, semangat menulis! Tampaknya saya harus menulis sebagai resolusi kedua: menyerbu media massa dengan tulisan saya.

Ngeblog? Salah satu persyaratan mengikuti komunitas ODOP saya memang diharuskan aktif lagi menulis di blog. Dan untuk tahun 2018 tampaknya harus ada peningkatan. Niche blog atau tetap gado-gado? Atau... oh iya, mempelajari potensi agar bisa diterima Google AdSense, secara saya awam dalam hal itu. Siapa pun, bantu saya dong agar bisa mewujudkannya!

Selain mewajibkan menulis di ODOP, di akhir tahun 2017, saya juga ikut Reading Challenge ODOP (RCO) yang mewajibkan setor bacaan. Nah, nah... saya akan berusaha melanjutkannya, meski mungkin nanti saya tidak lulus tingkatan RCO, saya akan berusaha tetap menarget bacaan harian. Sayang buku di rak banyak yang belum tersentuh.

Jadi dalam dunia kepenulisan, saya akan berusaha mewujudkan target berikut ini:

1. Merampungkan novel.
2. Mengirim tulisan ke media massa.
3. Blog diterima Google AdSense.
4. Membaca buku setiap hari minimal 20 halaman.

Lalu, untuk target di luar kepenulisan? Akan saya rembuk bersama istri, hehe. Target bisnis, target dalam keluarga, target dalam memperbaiki ibadah. Semoga Allah memberikan kemudahan. Allohumma aamiin.