Halaman Rumah Syamsa: Kedaulatan Rakyat
Cernak: Lebaran Tanpa Bapak

Cernak: Lebaran Tanpa Bapak

Cernak Lebaran Tanpa Bapak
 
Oleh: Wakhid Syamsudin 

Andi sedih ketika Bapak mengatakan tidak bisa mudik Lebaran tahun ini. Melalui panggilan telpon itu pun Bapak sudah menjelaskan alasannya. Pemerintah melarang mudik karena pandemi virus Korona belum berakhir, yang dikhawatirkan terus menyebar jika banyak orang berkerumun dalam perjalanan. 
 
Ibu sebenarnya juga sedih, tapi berusaha menghibur Andi. “Nanti kalau suasana sudah membaik, Bapak pasti pulang. Kan di sini ada Ibu dan adik-adikmu. Lebaran pasti tetap bermakna,” kata Ibu. 
 
Namun Andi tetap merasa bahwa Lebaran tanpa kehadiran Bapak tidak menyenangkan sama sekali. Biasanya sekeluarga mereka bersilaturahim ke rumah saudara, atau pergi ke pasar malam dadakan di lapangan desa. Tapi tahun ini tidak mungkin menikmati suasana itu karena Bapak tidak mudik. 
 
Saat ada kurir datang mengantar kiriman yang Bapak janjikan, Andi sama sekali tak berminat berebut membuka paket itu dengan adik-adiknya. Begitu juga saat Ibu memilah dan menunjukkan mana barang kiriman Bapak yang ditujukan padanya, ia sama sekali tak berminat untuk sekadar menyentuh. 
 
“Lihatlah, ini ada dua setelan baju koko bagus, pas banget ukuranmu, Kak,” kata Ibu. Dengan segan Andi mengangguk saja, membiarkan Ibu menyimpankannya dalam lemari pakaian. 

Andi memilih keluar, pergi main. Ibu berpesan mainnya jangan terlalu capai agar tidak terganggu puasanya. Andi melihat Budi dan Dodo bermain lego di teras rumah Budi, ia segera gabung dengan mereka. 
 
“Kupikir kamu tidur, Ndi. Biasanya siang kamu enggak keluar main,” sambut Andi. 
 
“Jenuh di rumah, Bud,” kata Andi. 
 
“Ayo gabung sini, legoku banyak yang baru.” 
 
“Terima kasih,” sahut Andi senang. 
 
Ketiganya asyik menyusun lego. Budi berkata, “Kemarin sepi banget, kalian sih enggak ada yang main ke sini.” 
 
“Apa kemarin Dodo juga enggak main?” tanya Andi sambil memasang legonya. 
 
“Kemarin aku diajak Emak ziarah ke makam Bapak, Ndi. Jadi enggak bisa pergi main,” jawab Dodo. 
 
Jawaban Dodo membuat Andi terdiam. Selama ini ia memang sudah tahu kalau Dodo adalah anak yatim. Namun, ucapan temannya itu membuat Andi seperti baru menyadarinya. 
 
“Sedih, ya, Do, kamu sudah enggak punya Bapak?” celetuk Andi begitu saja. 
 
“Sudah terbiasa, kok, Ndi. Kata Emak sih dijalani dengan ikhlas saja. Bapak sudah tenang di sana,” kata Dodo datar. 
 
Ucapan Dodo itu terngiang terus di telinga Andi sampai saat ia sudah pulang dari rumah Budi. Ia teringat Bapak yang tidak bisa mudik Lebaran. Rupanya, itu tidak seberapa jika dibandingkan Dodo yang sudah tidak punya Bapak. 
 
“Bu, boleh Andi telepon Bapak?” pinta Andi pada ibunya. 
 
“Kakak sudah kangen lagi? Kan belum lama sudah teleponan,” kata Ibu heran. Andi mengangguk. 
Ibu memberikan telepon genggam pada Andi. Ia pun segera menghubungi nomor Bapak. “Assalamualaikum, Bapak.” 
 
“Waalaikumussalam, Kakak.” 
 
“Bapak enggak mudik Lebaran enggak apa-apa. Andi ikhlas kok. Kan masih ada waktu lain untuk kumpul lagi,” kata Andi. 
 
“Alhamdulillah,” kata Bapak terharu. 
 
“Boleh Andi minta sesuatu, Pak?” 
 
“Minta apa, Kak? Tambahan uang jajan?” 
 
“Bukan. Andi cuma minta, baju koko yang Bapak kirim kan ada dua itu. Boleh enggak kalau yang satunya Andi kasihkan ke Dodo?” 
 
“Oh, begitu. Boleh saja, tapi kenapa Kakak mau berikan ke Dodo?” 
 
“Kan Dodo anak yatim, Pak. Kasihan sudah tidak punya bapak.” 
 
Bapak terharu mendengar perkataan Andi. Ibu juga terlihat berkaca-kaca matanya. Bapak berkata pada Andi, “Bapak setuju sekali, Kak. Bapak bangga sama Kakak.” 
 
Ibu bersyukur akhirnya Andi mulai ikhlas meski Lebaran tahun ini Bapak tidak bisa pulang. Andi pun bisa merasakan bahwa dengan berbagi kehidupan menjadi lebih indah. 
 
Weru, 26 April 2021 
Wakhid Syamsudin tinggal di Weru, Sukoharjo. 
 
Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat edisi 21 Mei 2021
Agar Sedih Tak Berkepanjangan

Agar Sedih Tak Berkepanjangan


Judul : Boleh Bersedih, tapi Jangan Berlebihan
Penulis : Sam Edy Yuswanto
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
ISBN : 978-623-00-0316-5
Cetakan : I, 2019
Tebal : x+196 halaman


Manusiawi sekali saat mengalami ujian dari Allah Swt kita bersedih. Tapi sebaiknya, bersedihlah sewajarnya saja, jangan terlalu larut. Jangan pula kesedihan itu membuat kita berputus asa dari rahmat atau kasih sayang Allah Swt. Putus asa berarti tidak percaya bahwa Dia sanggup mengubah kehidupan kita menuju yang lebih baik. Buku Sam Edy Yuswanto ini patut kita baca untuk perenungan akan kasih sayang Allah, baik dalam kondisi bahagia atau berduka.

Hal terpenting yang mesti kita renungi saat sedang bersedih adalah: bahwa kesedihan itu sifatnya hanyalah sementara. Artinya, masih banyak bentuk kebahagiaan lainnya yang terpampang di depan mata. Tugas kita adalah segera menjemput dan menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan tersebut. (halaman 2)

Kalau dipikir, dalam kehidupan kita, akan banyak dijumpai kenyataan yang patut disyukuri, bahkan kuantitasnya lebih banyak dibandingkan kesedihan yang ada. Kita bisa syukuri segala pemberian Tuhan, itu lebih baik daripada kita keluhkan apa yang membuat kita berduka. Seyogyanya, kesedihan dan kebahagiaan adalah dua hal yang saling melengkapi. Dan tindakan kita sebaiknya adalah menjaga perasaan agar tidak berlebihan dalam menyikapi keduanya.



Untuk mengobati hati yang galau, kita bisa merenungkan bait lagu Tombo Ati yang pernah dipopulerkan Opick. Tombo ati atau obat hati yang dimaksud dalam lagu tersebut ada lima macam. Pertama, membaca kitab suci Alquran dengan memahami maknanya. Kedua, menunaikan salat malam. Ketiga, berkumpul dengan orang-orang yang saleh. Keempat, memperbanyak melakukan puasa. Kelima, memperbanyak zikir di malam hari. (halaman 4)

Setiap peristiwa sedih yang melanda, kita akan bisa menemukan banyak hikmah jika merenungkannya. Terlebih jika kita bisa mengambil sisi positifnya. Jalaludin Rumi mengatakan: "Jangan bersedih, apa pun yang hilang darimu akan kembali dalam bentuk berbeda." (halaman 14)

Kesedihan yang Allah Swt titipkan pada hati manusia merupakan bentuk kasih sayang-Nya, agar kita merasa memerlukan-Nya, tidak lupa berdoa dan mengingat-Nya dalam zikir-zikir. Sudah tidak zamannya lagi berlarut dalam sedih berkepanjangan.

Buku Boleh Bersedih, tapi Jangan Berlebihan ini tidak hanya berisi opini ringan tentang mengatasi kesedihan, tapi juga dilengkapi tema menarik lainnya seperti bagaimana memanfaatkan waktu, cara menikmati hidup, senyum sebagai ibadah., perlunya berterima kasih, melayani tamu dengan baik, bahkan berbakti pada orangtua. Ada total 37 tulisan yang disajikan Sam Edy. Selamat membaca.

Wakhid Syamsudin, ketua umum komunitas literasi One Day One Post (ODOP), tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dimuat di koran Kedaulatan Rakyat edisi Sabtu, 26 Oktober 2019
Syawal Berkah dengan Berhijrah

Syawal Berkah dengan Berhijrah


SETELAH sebulan penuh digembleng puasa Ramadan, maka umat Islam seharusnya menyambut Syawal dengan berusaha  istikamah melanjutkan segala kebaikan dan amal ibadah yang sudah dilakukan di bulan suci. Usai idul fitri dan kembali suci setelah diampuni  Allah  dari  segala dosa. Maka selayaknya kita teruskan proses perbaikan diri  dengan berhijrah, bertobat untuk menuju pribadi yang lebih baik.

Sebuah buku motivasi karya Andri Astiawan Azis berjudul Habis Hijrah Terbitlah Berkah, tampaknya sangat bagus untuk bahan bacaan menyambut Syawal. Hijrah itu bukan menjadi lebih baik dari orang lain, tapi menjadi lebih baik dari diri kita yang dulu. Bukankah Allah berfirman : ”Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(QS. An Nur (24):31) (hal 21)

Mengapa orang bertobat akan beruntung? Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah Swt sangat gembira dengan pertobatan hamba-Nya, melebihi rasa gembira seorang yang kehilangan onta dan tiba-tiba onta itu kembali saat ia putus asa mencarinya. Membuat Allah gembira akan mendatangkan keberkahan, itulah keberuntungan.

Hijrah berarti bergerak, berpindah, dan meninggalkan kenyamanan kita dalam kubangan dosa dan maksiat. Sebab kalau kita bertahan dan enggan untuk meninggalkan, maka sulit bagi kita untuk berubah ke arah kebaikan. Tentu akan banyak risiko yang kita hadapi : kehilangan teman-teman yang buruk, kebiasaan yang buruk,atau lingkungan yang buruk. Tapi yakinlah, siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan kehidupan yang luas dan rezeki yang banyak. (hal 11)

Berhijrah dan terus istikamah memang bukan hal mudah, maka kiat-kiat dalam buku ini sangat bagus untuk dijadikan inspirasi. Kita harus yakin akan datangnya kemudahan setelah kesulitan. Apa yang kita tanam, itulah yang kelak kita petik hasilnya. Jangan lupa selalu berdoa untuk segala urusan.

Penulis juga mengajak berguru pada lebah. Lebah tinggal di tempat yang bersih dan hanya menyesap yang bersih. Mengeluarkan yang bersih juga, serta tidak membuat kerusakan. Lebah juga makhluk pekerja keras yang gemar bekerja sama, saling peduli, dan tolong menolong. Tapi jangan salah, lebah akan bereaksi kalau diganggu.

Tidak ada alasan untuk tidak mau berubah menjadi lebih baik. Momentum Ramadan dan Syawal adalah waktu yang tepat untuk mewujudkan perubahan itu. Membaca buku ini akan membuat kita merenung dan terinspirasi agar dapat kembali ke jalan hidayah dan meninggalkan kelam kemaksiatan.

Sebuah penyegaran di tengah kegersangan iman yang seringkali terjadi pada manusia-manusia modern. ”Libatkan Allah dalam setiap mimpi dan harapan. Karena Allah tak akan pernah mengecewakan hamba yang bergantung pada-Nya”. n-g*

Wakhid Syamsudin, Ketua Umum Komunitas Literasi One Day One Post (ODOP)

Dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Minggu Pon, 2 Juni 2019 

 
Bersua Tuhan di Negeri Beton

Bersua Tuhan di Negeri Beton



Judul   : Nikmat Bersua dengan-Mu
Penulis  : Nur Musabikah
Penerbit : PT Elex Media Komputindo (Quanta)
Tahun  : I, 2019
ISBN  : 978-602-04-9023-6
Tebal  : xvi + 164 halaman


TENAGA Kerja Indonesia (TKI) adalah WNI yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah (Buku Panduan TKI, 2014).

Dalam perkembangannya, penyebutan TKI ada bermacam-macam, seperti Tenaga Kerja Wanita (TKW), Buruh Migran Indonesia (BMI) atau Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Sebelum menjadi TKI terutama di sektor informal/rumah tangga (baca: pekerja rumah tangga), mereka harus mengikuti pelatihan skill yang diadakan oleh PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) dan BLK (Balai Latihan Kerja) selama sekitar 4 bulan di penampungan.

Mereka harus belajar bahasa negara tujuan dan menguasai skill kerja seperti masak masakan china, cara menjaga  lansia dan bayi, juga cara menggunakan peralatan modern yang nantinya akan dijumpai di rumah majikan. Lalu menjalani proses Pelatihan Akhir Pemberangkatan (PAP) sebagai persiapan mental sebelum bekerja di luar negeri. Juga sharing tentang cara mencegah stress di lingkungan baru dengan musim, budaya, dan adat yang jauh berbeda dengan kehidupan di Indonesia.



Buku ini menyajikan pengalaman penulis dari sejak berangkat ke HongKong, menunggu dapat majikan di kantor agen, interview langsung dengan calon majikan, bergonta-gantinya majikan baik karena kontrak habis atau pun adanya pemutusan kerja sepihak dari majikan.

Pada awal bekerja, TKI tidak sepenuhnya menerima gaji utuh karena harus dipotong untuk pengganti biaya hidup selama di penampungan hingga pemberangkatan.

Pengalaman Nur Musabikah, selama 7 bulan gajian dipotong HK $3.000 dari gajinya yang HK $3.750. Jadi selama 7 bulan ia hanya menerima HK $750. Masalah yang sering muncul adalah kesulitan melaksanakan salat 5 waktu, mengenakan jilbab, dan puasa Ramadan karena hidup di negara non muslim. Komunikasi yang baik dengan majikan sangat diperlukan, terlebih jika bisa ada perjanjian di awal kontrak.



Selain permasalahan umum dunia TKI Hong Kong, penyajian tulisan yang mengalir dalam buku ini, membuat pembaca dapat merasakan keseharian di sana. Menikmati  liburan  di  hari  Minggu  dalam  berbagai acara dan tempat rekreasi.

Nur Musabikah merasakan keberadaan Allah Swt yang selalu menjaganya selama berada di negeri orang, jauh dari keluarga. Di sela kesibukan kerja, ia bisa bergabung dengan komunitas TKI dengan pelbagai kegiatan. Bisa disebut, buku Nur Musabikah ini adalah oleh-oleh selama jadi buruh migran di Hong Kong. n-g*

Wakhid Syamsudin, Ketua umum komunitas menulis One Day One Post (ODOP).

Dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 5 Mei 2019
Piatu

Piatu



PARMIN bergegas berlari kecil mengejar pria paruh baya itu. Menyadari ada yang berlari ke arahnya, si pria berhenti berjalan. Pria berkopiah putih itu tertegun mendapati tubuh kurus Parmin di hadapannya. “Parmin, maafkan saya, ya,” pintanya.

Parmin hanya tertunduk saja. Pria dewasa di depannya mendengus. “Seharusnya, jatahmu tidak perlu dihentikan. Saya akan coba bicara lagi sama Bu Hajah.”

Usai menepuk bahu ringkih Parmin, ia melangkah pergi. Ada beberapa amplop berisi uang yang harus segera ia sampaikan kepada pemilik nama yang sudah dicatatnya. Parmin mengangkat wajah melihat pria yang beberapa bulan menjadi malaikatnya itu hilang di tikungan jalan kampung. Beberapa jenak, ia baru berbalik. Pulang.

Nenek yang melihatnya tampak dekil dengan baju lusuh itu lekas berseru, “Parmin, lekaslah mandi. Bapakmu hari ini mau pulang sama perempuan sundal itu. Bagaimana pun, perempuan itu kini adalah bini bapakmu.”

Parmin tidak menggubris perkataan Nenek. Ia masuk rumah reyotnya yang sungguh tidak layak huni. Perutnya lapar. Entah ada tidak yang dimasak Nenek hari ini. Ia meringis saat nasi hanya berkawan sambal yang ia dapati.

Parmin masih ingat pria paruh baya yang selalu memakai kopiah putih itu tempo hari berkata, “Parmin, maafkan saya, namamu sudah dicoret Bu Hajah. Kamu bukan piatu lagi.”

“Tapi cucuku anak yang malang, tidak bisakah Bu Hajah mengecualikan dia?” tanya Nenek.

“Amanat dari almarhum Pak Haji, amplop bulanan ini hanya untuk anak yatim atau piatu. Tidak punya ayah, atau tidak punya ibu.”

“Tapi, tidakkah kau lihat kemiskinan di gubuk reyot ini?”

“Saya akan bicara sama Bu Hajah. Meski saya yakin, nama Parmin tetap disilang.”

Lamunan Parmin terganggu suara kasar Bapak di luar. Nenek menyambut dua tamunya itu dan menyuruhnya masuk. Parmin tiba-tiba teringat Emak. Kalau saja dulu Bapak peduli pada kondisi kesehatan Emak, pasti Emak tidak secepat itu dikubur di pemakaman kampung. Tapi Bapak tidak pernah lepas dari minuman keras dan judi. Bahkan, perempuan yang dikawininya sebagai ganti Emak juga bukan perempuan baik-baik, begitu Nenek pernah bilang.

Tiba-tiba, mata Parmin menumbuk ke sebilah pisau dapur yang tergeletak di dekatnya. Terngiang kata-kata pria berkopiah putih. Dan ia merindukan status piatunya. Ia mendengus sambil menggenggam gagang itu dengan penuh gelegak.

*)Suden Basayev, Ketua Umum Komunitas Menulis One Day One Post (ODOP). Tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat edisi Minggu Pahing, 27 Januari 2019 (20 Jumadilawal 1952) halaman Budaya.