Halaman Rumah Syamsa: Episode
Farel dan Lampu Merah

Farel dan Lampu Merah

Kisah menggelikan ini terjadi ketika aku mengajar TPA di masjid Darussalam Candi, hari Kamis sore. Meski hujan gerimis aja, ternyata tak menggoyahkan semangat para santri menuntut ilmu. Cukup membuat saya bersemangat, meski awalnya agak ragu berangkat karena cuaca.

Setelah kegiatan baca Iqro selesai. Santri berkumpul untuk persiapan pulang. Karena jam pulang masih beberapa menit lagi, maka kuajak santri bertepuk ria dulu. Tepuk Anak Sholeh. Plok! Plok! Plok! Aku anak sholeh... dst.

Kelar tepuk-tepuk ria. "Sekarang kita ingat kembali hafalan nama Nabi."

Kompak santri-santri kecilku menyanyikan bait lagu 25 Nabi yang dipopulerkan Raihan. "Adam Idris Nuh Hud Sholeh ... dst!"

Meriah sekali, ya. Kelar lagu itu dinyanyikan bersama, kucoba menantang santri, "Ada yang berani menyanyikannya di depan?"

"Aku!" Si Farel mengangkat jari. Nih anak pemberani juga, pikirku. Padahal masih TK. Semoga beneran sudah hafal lagu 25 Nabi, doaku.

Kupersilakan Farel maju. Dan tanpa babibu, bocah 5 tahun langsung menyanyi. Aku kaget. Teman-temannya langsung pada tertawa. Tak kusangka Farel menyanyi:

"Lampu merah tanda berhenti!"

Baru baris pertama lagunya sudah disambut tawa semua yang ada di masjid. Aku juga ikut tertawa, si Farelnya yang tidak paham kenapa teman-temannya pada tertawa.

"Ya sudah, Farel, teruskan nyanyinya!" kataku sebelum Farel menangis karena jadi bahan tertawaan.

"Lampu merah tanda berhenti... Lampu kuning berhati-hati... Lampu hijau boleh berjalan... dst!"

Hehe. Ada-ada saja! Maju terus pantang mundur, Farel!
Mengapa Musti Begini?

Mengapa Musti Begini?

Mendapat undangan buka bersama di Ponpes Qoryatul Quran di Kauman, Jatingarang, Weru. Datang ke sana bersama Bowo, Lek Sukiran dan Pakde Muri. Undangan jam 4 sore, acara dimulai sekitar pukul 5. Biasa, molor adalah hal wajib. Beruntung kami berangkat dari rumah lewat jam 4.

Saat menunggu acara dimulai, ketika duduk di ruangan acara, ada seorang teman, yang setahuku adalah aktivis PKS, berbisik padaku, “Kok panitia pondok orang-orang MMI semua, ya?”

“Kurang tahu. Tapi kan banyak juga dari Dewan Dakwah dan kelompok lainnya,” bisikku juga.

“Ponpes ini sepertinya binaan MMI.”

“Setahuku milik umat Islam, tanpa membedakan kelompok.”

Teman ini lalu berbisik, “Dilihat dari orang-orangnya kentara MMI. Semoga tidak seperti Ngruki.”

“Ah, ini kan pondok tahfizul Quran, pasti lebih mengutamakan penghafalan Quran,” kataku. Lagian apa yang salah dengan MMI ataupun Ngruki, batinku.

“Iya, dan semoga tidak seperti Ngruki.”

Aku tak melanjutkan bisik-bisik karena acara sudah dimulai. Kenapa pondok pesantren baru dan berniat baik begini musti pakai dicurigai begini-begitu? Mari berlomba dalam kebaikan, jangan melulu saling menjegal!
Pakai Batu Saja!

Pakai Batu Saja!

Di rumah kulon. Sore hari. Setelah memandikan Haikal, aku harus segera mandi juga karena jam 4 harus sudah di Sidowayah, TPA.

Di sumur terlihat dua ponakanku sedang mandi di luar sambil bercanda main air. Hanun dan Dodik. Keduanya masih anak TK.

“Om, Mas Hanun nggak bisa pakai sabunnya nih...,” Dodik mengadu padaku. Kulihat Hanun memang kerepotan hendak mengeluarkan isi sabun cairnya.

“Kalau nggak bisa pakai sabun begituan nggak usah pakai yang kayak gitu,” kataku hendak mencandainya. “Pake batu saja digosok-gosok!”

“Sudah bisa kok, yee...,” sahut Hanun setelah berhasil mengeluarkan isi sabun cairnya. Dodik tertawa mendengar candaku tadi.

Aku lekas menimba air. Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi dan melepas pakaian. Setelah lepas semua pakaian, aku tak menjumpai gayung yang biasa tersedia di situ. Oalah, dipakai Dodik sama Hanun di luar buat mandi!

“Mas Hanun, pinjam gayungnya satu dong!” pintaku sambil menongolkan kepala.

Tak kusangka, Hanun menyahut refleks dengan selorohan, “Pake batu saja!”

Waduh! Aku myengir merasa terkerjai! Hanun bisa-bisanya bilang begitu. Menahan tawa sendiri, aku terpaksa mandi dengan wadah sabun buat gayungnya. Meski kecil, lumayan dari pada nggak pakai gayung. Hahaha!

Kapok nih, mencandai Hanun!
Jumat di Sumurkluwih

Jumat di Sumurkluwih

Pulang dari tempat kerjaan ketika mentari sudah nyaris di atas kepala. Hmm..., harus lekas mampir ke masjid terdekat nih, agar tidak terlambat Shalat Jumat.

Melewati depan Ponpes Darul Fithrah Pomahan aku belum membelokkan motor ke masjid di kawasan ponpes itu. Aku ingat di depan nanti masih ada satu lagi masjid terdekat. Ya, kubelokkan ke sebuah masjid di pinggir jalan seberang saluran irigasi. Masjid di Dukuh Ngadipiro, sekitar Sumurkluwih.

Begitu kuparkir motor, kulihat baru ada satu motor di parkiran. Dari dalam terdengar suara seorang bapak yang sedang membaca Alquran. Beliau di dalam pun sendirian saja.

Aku ke kamar kecil. Kebelet pipis juga nih, ceritanya. Memastikan pembaca tidak mengintip, segera aku buang air kecil. Kelar itu, aku berwudhu di padasan. Iya, setelah buang air tentu disentor dong!

Masuk masjid. Aku tidak asing dengan suasana dalam masjid, soalnya beberapa waktu dulu ketika masih di Setia Optik, aku pernah beberapa kali singgah di masjid ini untuk shalat dan istirahat menunggu waktu promosi kacamata di kampung-kampung sekitar. Hanya saja seingatku, ini adalah kali pertama hendak Shalat Jumat di sini.

Usai shalat sunnah, kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 12:00 WIB. Tapi belum muncul jamaah yang lain. Beberapa saat kemudian datang seorang bapak lagi. Di luar ada seorang anak berkalung sarung, pasti juga mau Jumatan di sini.

Si bapak yang datang paling awal tadi mengakhiri bacaan Qurannya. Lantas berjalan mendekatiku.

“Mas, tolong jenengan azan, nggih. Sini rata-rata mualaf, kalau sudah azan baru pada datang,” kata si bapak berbisik dekatku.

Aku mengannguk dan lekas berdiri mendekat mimbar. Beliau naik mimbar, mengucap salam tanpa mikropon. Aku menyusul dengan suara azanku yang merdu nian, juga tanpa mikropon.

Benar saja, tak lama kemudian, berdatangan jamaah yang mengikuti Shalat Jumat di masjid ini. Dua khotbah terlaksana. Dan dilanjut shalat dua rakaat Shalat Jumat. Hadir tak genap 40 orang yang ikut berjamaah.

Seusai Shalat Jumat, aku pulang tentu saja, karena tak mungkin menginap. Hehe. Nggak lucu, ya. Sambil jalan pulang itulah aku mulai berpikir. Bukankah masjid tadi dekat dengan Ponpes Darul Fithrah? Dan tak begitu jauh, juga dekat Dukuh Nuricik, salah satu kampung basis PKS. Apa yang salah? Tidak ada yang salah. Hanya aku berpikir, kemana mereka? Apa dakwah dan kepedulian mereka tidak sampai ke masjid tersebut? Entahlah. Aku hanya menulis karena merasa terusik untuk menuliskan ini. Dan, kebetulan di tempat kerja lagi tidak banyak yang harus diselesaikan.

Semoga ada yang bisa mengambil manfaat dari coretan ini.

Iblis Laknat

Iblis Laknat

Langit dikuasai mendung. Aku dan Bowo demo keur di Dukuh Ngetal, Balak. Cuaca yang kurang mendukung. Ditambah musim panen yang mengecilkan peluang kehadiran warga yang sebelum Asar tadi sudah kusebari undangan promo. Sempurna sudah rasa malas mengukung kami. Setengah empat, waktu untuk demo tiba.

Kami meninggalkan masjid. Meluncur ke rumah Pak RT Ngetal yang lokasinya di sebelah barat kampung. Parkir motor di tepi jalan. Bersama Bowo menuju ke pekarangan rumah Pak RT.

Pak RT di sumur sedang mencuci 'pakaian dinas'-nya, kentara beliau baru pulang dari sawah. Bu RT di serambi depan sedang berbicara dengan entah siapa melalui HP. Aku hanya menangkap kata 'dokter', 'jam buka', dan beberapa kalimat yang aku tak begitu tertarik mengetahuinya lebih lanjut. Di dekat Bu RT berdiri anak laki-lakinya, menunggui HP-nya yang dipakai sang ibu menelepon. Kami belum sempat menyapa Pak dan Bu RT karena masing-masing sibuk. Hampir kusapa si anak, tapi blas tidak ada raut ramah dari anak Pak RT itu. Urung kusapa ataupun sekedar niat menganggukkan kepala padanya.

Di serambi depan ada dua kursi yang langsung menampung pantat capek kami. Tak lama, Bu RT mengakhiri panggilan. HP berpindah tangan ke si anak.

"Bu," kusapa beliau.

"Nggih," sambut Bu RT ramah sekali. "Sepi, kok, Om, warga banyak merantau ke Semarang."

"Iya, Bu, seadanya saja nanti kalau ada yang datang," kataku, "tadi sudah saya sebar brosur undangan. Kalaupun tidak ada yang datang juga nggak masalah, memang kondisi sedang panen begini...."

Bu RT ke sumur. "Pak, biar saya lanjutkan nyucinya. Bapak buruan mandi."

Aku tak begitu memperhatikan adegan di sumur. Hanya kulihat si anak mengambilkan handuk yang tersampir di serambi. Kudengar umpatan dari mulut remaja tanggung ini. Aku beristighfar. Bowo yang asyik ngenet pakai HP menyempatkan melirik tuh anak.

"Nih, ambilkan apa lagi?!" suara kasar si anak sambil mengangsurkan handuk kepada orangtuanya.

Aku kembali beristighfar. Anak zaman sekarang sudah sekasar itu kepada orangtua. Padahal yang terjadi baru adegan pembuka. Beberapa saat lagi, episode kehidupan yang sesungguhnya akan tergelar!

Pak RT menyudahi mandinya. Masuk rumah dan berganti baju lengan panjang motif batik rapi. Lalu menyalami kami. Berbasa-basi sedikit.

"Tapi maaf, Mas, saya tidak bisa menemani. Mau mengantar anak periksa ke Weru."

"Oh, tidak apa-apa, Pak. Silakan saja...," sahutku.

Aku tidak tahu siapa yang sakit. Pak RT sepertinya menunjuk ke dalam waktu mengucapkan itu. Anak yang sakit di dalamkah? Bukan anak lelaki tadi, karena tuh anak berada di luar. Mungkin anak beliau yang lain.

Si anak laki-laki yang sedari tadi di luar, datang dari sumur. Oya, untuk mempermudah cerita, sebut saja anak itu Iblis Laknat. Kasar, ya, sebutannya? Biarin, malah kalau ada sebutan lebih kasar dari itu aku mau memakainya untuk menyebut si Iblis Laknat satu ini. Jangan protes dulu, ya, ceritanya belum kelar!

"Ayo, jadi nggak?" suara Pak RT di dalam rumah. Entah bicara sama siapa. Aku mengansumsikan beliau bicara sama anaknya yang sakit di dalam. Maaf, detail keluarga beliau kan aku tidak tahu. Baru hari ini juga aku bertemu Pak RT Dukuh Ngetal ini. Tepatnya tadi pagi waktu meminta ijin tempat untuk keperluan demo keur kacamata.

Aku tidak mendapati jawaban apa-apa. Yang lantas mengusik aku dan Bowo adalah si Iblis Laknat yang tiba-tiba menggedor-gedor pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan kerasnya.

"Kok begitu to, Le?! Rusak pintunya ntar!" suara Bu RT yang selesai mencuci.

"Biarin rusak!" bentak si Iblis Laknat keras sekali. Anak durhaka!

Pak RT keluar. "Kalau begitu biar aku sendiri saja," kata beliau.

Si Iblis Laknat bergerak menuju sepeda ontel yang terparkir di serambi dekat kami. Dia menggembos bannya. Mengambil dop dan karet pentil dan melemparkannya!

"Jangan dibuang, to, Le!" Pak RT menahan dengan suara perlahan. Tapi si Iblis Laknat tidak peduli!

"Kenapa?! Nantang atau gimana?! Gelut po piye! Ayo, kalau berani!" Iblis Laknat itu mendorong tubuh renta si bapak. Bahkan pukulan tangannya sempat mampir tubuh rapuh itu. Pak RT hanya berseru dan mencoba menghindar.

"Jangan, to, Le! Bapakmu sudah tua, ya menang kamu!" Bu RT berseru, tanpa berani mendekat. Apalagi si Iblis Laknat sudah kian kalap. Kelar mendorong tubuh si bapak, Iblis Laknat membanting pompa angin dan menginjak-injaknya.

"Rusak, Le, pompanya!" Pak RT mencoba berseru perlahan.

"Rusak yoben! Kenapa? Ayo gelut!" sahut Iblis Laknat lebih keras.

Aku tak berani melihat kejadian miris itu. Memandang Bowo yang juga mendadak terpaku menyaksikan insiden ngeri ini.

"Pamit aja, yuk," ajakku berbisik ke Bowo.

"Ntar, suasananya nggak mendukung," jawab Bowo.

Adegan berikutnya makin gila! Aku makin ngeri dan bingung mau berbuat apa. Rumah sekitar Pak RT memang kebanyakan kosong. Ada yang memang ditinggal pemiliknya merantau, ada juga yang ditinggal ke sawah.

"Ayo tarung!" Iblis Laknat kembali menantang sang bapak. "Aku ambilkan parang! Bunuh-bunuhan atau gimana, ayo!!"

"Jangan, to, Le! Kasihan bapakmu!" Bu RT berseru, tapi mulai agak menjaga jarak.

"Apa kau? Mau ikut-ikutan! Berani kemari!" Astaghfirullah, Iblis Laknat itu juga menantang duel sang ibu. Laknatullah!

Aku dan Bowo makin bingung. Terpaksa akhirnya beringsut meninggalkan serambi rumah Pak RT. Aku lekas menuju motor. Bowo sudah sampai di perempatan!

Saat sudah di atas motor, kulihat Pak RT membuang pompa dan sabit, menyingkirkan benda berbahaya itu dari jangkauan si Iblis Laknat.

"Pak, kami pamit!" lidahku tercekat berpamitan ke beliau.



‎"Iya," hanya jawaban pendek Pak RT dalam panik yang coba diatasi.

Tak lama, aku dan Bowo meninggalkan Ngetal dengan jantung penuh kengerian tanpa bisa berbuat apa-apa. Ya Allah, kirim azab-Mu untuk Iblis Laknat itu sekarang! batinku kacau....

"Bingung, kita juga nggak tahu duduk masalahnya," komentar Bowo saat kubilang tidak bisa berbuat apapun melihat kejadian itu di depan mata.

Pak RT..., semoga Allah menguatkanmu! Iblis Laknat, aku tidak terlintas pun mendoakan keinsyafanmu. Di otakku hanya berseliwer harap, semoga azab melumatkanmu!

Gerimis mengiring perjalanan kami menuju Tawang....



Sore rapuh, 6 Maret 2012
Buah Talok

Buah Talok

Tahu yang namanya buah talok? Aku sih tidak tahu bahasa Indonesianya apa. Buah ini lagi musimnya di daerahku. Pohonnya ada di mana-mana, terutama di pinggiran jalan raya. Buahnya bulat kecil-kecil, sebesar anggur yang ukurannya kecil. Kalau matang warnanya merah. Rasanya maniiss sekali, banyak anak yang suka. Bahkan orang tua pun banyak yang senang memakannya. Konon, juga bisa untuk obat kalau lagi capek (katanya sih!)

Ceritanya, di depan kantor Setia kan ada dua pohon talok yang buahnya cukup banyak, tiap hari ada saja yang matang di pohon. Bahkan di bawahnya banyak bercecer yang jatuh. Tapi kalau sudah jatuh begitu, hilang nafsu memakannya. Kadang aku suka meraih buah yang rantingnya bisa diraih berdiri. Memakannya begitu saja. Enak juga, hehe. Tapi mau ambil yang tinggi agak tidak enak hati alias rada malu dilihat orang. Kayak anak kecil aja manjat talok. Hehe.

Aku pernah cerita tentang talok ini pada istriku. Eh, ternyata dia kepengen, minta dibawain pulang tuh buah. Soalnya di rumah kulon ada satu pohon talok yang sering dipanjati anak-anak demi mendapat buahnya yang tak seberapa dan kadang belum sampai benar-benar merah.

Kemarin aku pulang tanpa talok.

"Mana taloknya?" tagihnya.

"Hehe. Malu, Bun, nyarinya."

"Oh... Ayah malu nyari taloknya? Mbok bilang, tiwas Bunda berharap Ayah pulang bawa talok."

Nah, hari ini, konsentrasiku terganggu sejak sampai di kantor sebelum keluar demo kacamata. Buah talok itu benar-benar banyak yang merah. Ketika bersama Bowo keluar mencari konsumen, di sepanjang jalan kulihat talok yang seakan memanggil-manggilku. Ingat istri di rumah yang kepengen tuh buah!

Sampai di kantor lagi saat tengah hari. Aku di bawah pohon talok melihat-lihat ke atas. Mau manjat, malu... Serba bingung nih! Meraih yang rendah hanya dapat beberapa buah.

"Ada apa, Mas?" ibu yang di warung sebelah kantor bertanya saat melihatku memandangi ke atas.

"Hehe. Ini, Bu, talok."

"Oh..., kalau pegel-pegel bisa buat obat tuh. Pake ini aja, Mas, kalau mau ngambil taloknya."

Tak kusangka, si ibu mengambilkan sebuah galah bambu khusus untuk mencari talok. Galah yang ujungnya ada potongan bekas botol air mineral yang berfungsi menampung talok yang jatuh kena galah. Jadi malu deh, ternyata...

"Makasih, Bu," kuterima uluran galah itu. Hehe.

Hari ini, aku bisa memanen tuh buah talok. Oleh-oleh buat istri di rumah. Hahahaha....

Pesan moral: Malu tuh pada tempatnya aja, buat apa malu kalau hanya membuat kepengenan tak terobati. Betul? Hehe.
Bagi Duit, Mas...

Bagi Duit, Mas...

Kali ini, mengulang promosi di daerah Miratan. Kemarin sempat kami lewati karena ada warga sedang hajatan, dan rumahnya pas di samping rumah Pak RT.

Jam 13:30 WIB. Belum satupun warga datang. Rumah Pak RT yang sekalian warung tidak menyediakan tempat duduk di emperan, maka aku dan Bowo memilih duduk di sebuah dipan di bawah pohon talok, di depan rumah Pak RT.

Beberapa menit berlalu, barulah datang seorang bapak mengecek mata. Bowo sebagai RO melaksanakan tugas dengan baik. Sayang, si bapak sudah punya kacamata dan ukuran lensanya masih sesuai dengan kebutuhan mata beliau.

Berlalunya bapak itu, kembali penantian sepi di tengah panas siang. Hanya terlihat beberapa bocah bermain dekat kami. Keceriaan kanak-kanak yang tak peduli cuaca gerah begini.

Seorang anak usia SD mendekati kami. Tepat di sebelahku, ia bersandar pada dipan.

"Mas, minta uangnya, Mas," bocah SD itu berkata padaku.

Aku menolehnya. "Apa, Dik?"

"Minta uangnya, Mas."

Aku toleh Bowo yang juga melirikku. Kembali kutanya tuh bocah, "Siapa yang mengajarimu minta kayak gini?"

"Kakakku."

"Kakakmu di mana?"

"Di rumah."

"Rumahmu di mana?"

"Situ, dekat jalan raya," katanya sambil menunjuk arah jalan raya.

"Kok minta uang? Minta dong sama orang tuamu."

"Bapak sudah meninggal. Ibuku juga."

Oh? Tapi, jujur atau bohong nih anak?

"Ayolah, Mas, bagi uangnya. Seribu juga nggak apa-apa."

"Buat apa?"

"Buat jajan, Mas."

"Itu, kamu sudah beli es?" tunjukku, ia memang memegang es dalam plastik.

"Ini yang ngasih temenku kok."

"Kamu tidak sekolah?"

"Sekolah."

"Di mana?"

"Di MI situ, tapi tidak pernah bawa uang saku," ia menunjuk ke arah timur. Aku tahu arahnya MI Ngadirejo.

"Kakakmu?"

"Kelas 1 SMP."

"Yang masakin tiap hari?"

"Ya kakakku."

"Yang bayarin sekolah?"

"Saudara jauh di Solo sana."

Aku kembali saling pandang dengan Bowo.

"Ayolah, Mas. Bagi duitnya...."

Dilema. Membantu atau kena tipu. Juga, menolong atau memberi didikan tidak baik. Tapi, rasa kasihan juga yang menang, kurogoh juga saku celana, menyerahkan selembar duaribuan padanya.

Apa iya, ada anak yang 'bisa' menipu di kampung begini? Kalau di perkotaan bisa saja terjadi. Wallahu a'lam.
Bukan Ijin Menipu

Bukan Ijin Menipu

Mulai memasuki kawasan kelurahan Grajegan Tawangsari. Kali ini, jatah demo di Dukuh Grogol RT 02/01, Grajegan. Saat mencari rumah Pak RT-nya, kami bertanya ke salah satu warga dan segera mendapatkan rumah beliau.

Begitu sampai di rumah Pak RT, disambut si empu rumah yang sedang duduk di sebuah kursi di serambi rumah. Tidak terlihat sambutan yang ramah, apalagi setelah kukatakan maksud kedatanganku. Sikap beliau terkesan meremehkan.

"Mau minta ijin promosi kacamata, Pak."

Tanpa senyum, tuh bapak menjawab, "Maaf, tidak bisa. Saya sudah berulang kali ketipu. Cari tempat lain saja!"

Hm..., apa kami mirip penipu, Pak RT yang terhormat?

"Oh..., berarti tidak bisa, ya, Pak?" kataku menyurut emosi, "Kira-kira, selain di rumah Bapak, ada ndak rumah yang lain yang biasa dipakai promosi di RT sini?"

"Ya, cari tempat warga saja. Tapi saya juga tidak berani menunjuk rumah siapa. Di sini sering kena tipu. Saya nggak mau disalahkan."

Hm..., aku bisa berpikir jernih. Memang sih tugas RT berat, tanpa imbalan pantas, sering jadi sasaran kesalahan jika warga dirugikan. Ini juga efek dari adanya penipuan berkedok sales yang sering kudengar terjadi di beberapa tempat.

"Ya sudah, Pak, kami minta pamit," kataku.

Bersama Bowo, kutuju rumah Pak Bayan yang alhamdulillah se-RT dengan si bapak tadi. Alhasil, di rumah Pak Bayan dengan senang hati menerima kedatangan kami. Penerimaan yang jauh berbeda dengan si Bapak RT.

Demo di Grogol RT 02/01 mendapatkan seorang pembeli, meski hujan turun dengan lebatnya. Alhamdulillah.
SMS

SMS

Lelah seharian. Kelar sudah tarub di rumah kulon. Menjelang Magrib sempat kurebahkan punggung di kamar. Kuraih HP istri yang tergeletak di atas kasur.

Iseng kubuka menu pesan HP china ini. Biasa, sok ngecek SMS yang ada.

Mataku tiba-tiba tertumbuk pada sebuah SMS di pesan terkirim. SMS yang cukup mengusik, memancing rasa penasaran di benakku. SMS dari nomor 082196585736!

Kucek nomor siapa itu. Tidak ada di kontak. Aku juga asing dengan deretan angka itu. Bunyi pesan terkirim itu sbb: "Hpne wae ijolno pulsa. Aq yo ora duwe duwit!" (HPnya aja ditukar pulsa. Aku juga tidak ada uang, ed.)

Siapa ya? Ada yang minta uang kepada istriku? Siapa? Saudara? Ah, nomor siapa ini?

Istriku masuk kamar. "Ini nomor siapa, Bunda?" tanyaku lekas.

"Tau'!" jawab istriku sambil meminta HP-nya.

Tak lama, ia angsurkan kembali padaku. Menunjukkan sebuah pesan masuk dari nomor di atas tadi:

"Bapak tukokno pulsa simpati ndisek 20rb iki No ku anyar bpk 082196585736, Cepet saiki tak enteni,penteng."

Oalah! Yo wis. Kirain siapa. Hehe.