Halaman Rumah Syamsa: Cerma
Antologi Cinta

Antologi Cinta




Dita sedang asyik menikmati novel di salah satu bangku di ruang baca perpustakaan sekolah, saat seseorang menyapa, “Boleh duduk di sini?”

Dita menyilakan. Baru kemudian menoleh cowok yang sudah duduk di sebelahnya. Si cowok mengangguk padanya dengan tatapan persahabatan.

Dita kembali ke halaman novel yang ia baca. Tapi ia kehilangan fokus, penasaran dengan cowok di sebelahnya. Ia merasa cowok itu asing, baru sekali ini dia lihat. Ingin ia bertanya tapi sungkan.

Dita masuk kelas disambut seruan penuh keceriaan teman-temannya.

“Hore... jam kosong!” Begitu kebahagiaan tak terkira para remaja penerus generasi bangsa saat guru yang punya jam pelajaran menitipkan soal untuk dikerjakan pada ketua kelas.

“Dit, ada anak baru, tapi di kelas sebelah sih,” kata Reni di sela hiruk-pikuk kelas.

“Pindahan dari mana?”

“Dari Jakarta kayaknya.”

Reni membuka gawainya. “Ini, Ulfi mengirimi foto tuh cowok di grup OSIS,” katanya sambil memperlihatkan layar gawai ke Dita.

Semula Dita tidak begitu merespons, tapi saat sepintas mengerling wajah cakap seorang cowok di gawai Reni, ia terkejut. Itu wajah sama yang ia jumpai di perpustakaan barusan.

“Oh, dia,” kata Dita datar.

“Dih, kamu kenal?”

“Enggak, sih. Cuma barusan ketemu di perpus.”

“Serius? Kalian sudah kenalan dong?”

“Belum. Cuma baca buku semeja.”

“Semeja? Waw! Harusnya kamu ajak kenalan, Dit. Siapa tahu dia jomblo, kan kamu juga jomblo.”

“Ih, omong apa sih, Ren. Aku jomblo kan memang karena nggak mau pacaran. Kalau kamu mau ambil saja tuh cowok, syukur-syukur dia mau sama kamu,” sahut Dita pula.

Kedatangan siswa pindahan dari kota itu memang cukup menghebohkan. Para cewek kurang kerjaan berebut menarik simpatinya. Memang cowok itu tampan. Dari gayanya juga tajir. Pertama ketemu di perpus, Dita juga bisa menyimpulkan kalau anak baru itu cukup sopan.

Esoknya, begitu sampai di sekolahan, Reni mengabari Dita kalau ada pesan dari tata usaha, ada paketan untuk Dita yang dialamatkan ke sekolahan. Seperti biasa, siswa yang mendapat kiriman paket atau surat harus mengambilnya ke ruang tata usaha (TU).

Dita menuju ke ruang TU saat jam istirahat pertama. Begitu sampai di sana, ia menjumpai Pak Dwi yang berjaga.

“Dita, ambil paketan, ya?” Pak Dwi mengangsurkan bungkusan. Dita melihat nama pengirimnya.

“Alhamdulillah,” ucapnya lega.

“Itu pengirimnya penerbit buku, ya, Dit? Di sampul ada tulisan kontributor. Kamu ikut menulis di buku ini?” tanya Pak Dwi membuat Dita agak terkejut.

“Eh, iya, Pak. Saya iseng-iseng belajar nulis cerpen. Alhamdulillah ini bisa lolos ikut antologi cerpen kisah cinta anak sekolahan.”

“Nulis pengalamanmu sendiri, ya?” tuduh Pak Dwi sambil tersenyum.

“Ih, enggaklah, Pak. Ini hanya fiksi saja kok.”

Dita memang ingin menjadi penulis. Ia ingin bisa bikin cerpen bahkan novel seperti yang sering ia baca di perpustakaan sekolah. Dan ini pengalaman pertama ikut lomba antologi cerpen dan dibukukan. Setiap kontributor yang lolos seleksi akan mendapat kiriman buku hasil penerbitan. Di tangannya kini, buku itu sudah dipegang. Ingin rasanya lekas membuka bungkus paket tapi sungkan pada Pak Dwi.

“Selamat ya, saya ikut senang kalau ada siswa SMA kita yang suka menulis sepertimu.”

“Terima kasih, Pak.”

“Oh iya, paketan dari penerbit itu ada dua lho. Yang satu juga belum diambil pemiliknya. Tampaknya ada dua siswa yang menulis di buku yang sama.”

Pak Dwi meraih bungkusan lain di atas meja. Belum sempat Dita merespons, tiba-tiba ia dikejutkan seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.

“Saya Ilham, Pak. Itu paket buat saya.”

“Kamu?” Dita spontan menoleh ke cowok yang barusan muncul.

“Iya. Kita sebuku di antologi cinta. Saat penyelenggara bilang ada alamat sama dengan sekolahanku, aku jadi penasaran dan sempat menjumpaimu di perpustakaan. Tapi kita belum sempat kenalan,” kata Ilham.

“Kamu suka nulis juga?” tanya Dita tak percaya.

Pak Dwi menyerahkan paket buku milik Ilham. “Kalian terlihat serasi lho,” katanya.

“Ih, apaan sih, Pak!” Dita menyahut cepat.

“Sebuku, Pak, bukan serasi,” Ilham meralat.

“Sebuku, serasi, sejoli juga bisa, kan? Hahaha.”

Pipi Dita memerah mendengar candaan Pak Dwi. Ilham tertawa lebar seolah itu kelucuan. Jujur, mendadak hati Dita berdebar.

***

Wakhid Syamsudin 

Sidowayah RT 001 RW 006 Ngreco Weru Sukoharjo.

Dimuat di tabloid Minggu Pagi edisi No.46 Th 73 Minggu IV Februari 2021

Sendiri

Sendiri


Lutfi merasa benar-benar sendiri. Meski dalam ruangan kelas ada 35 siswa, tapi ia merasa bahwa mereka hadir tidak untuknya, dan keberadaannya tidak dianggap oleh mereka. Mungkin ini semua adalah konsekuensi yang harus dijalaninya, akibat sikap yang ia pertahankan.

Saat jam istirahat, ketika beberapa teman sekelasnya bergerombol di salah satu meja, Lutfi pernah mendekat. Tapi ia kecewa karena semua mendadak bubar, atau berpindah ke kelompok kecil lainnya. Septian sempat berkata dengan nada sinis, "Tidak ada teman untuk orang yang tidak setia kawan."

Perkataan Septian ditimpali oleh Fadli, "Pintar cuma buat diri sendiri, buat apa berteman dengan kami?"

Lutfi tidak mampu menjawab apa-apa. Ia sadar betul, teman-temannya merasa kesal karena setiap kali ada pekerjaan rumah, tugas sekolah, bahkan ulangan, ia memang tidak pernah bersedia pekerjaannya dicontek siapapun.

"Biar dia rasakan hidup sendirian," sentak Alfian sambil menjauh dari Lutfi.

Lutfi mengalah, dan dia terima perlakuan teman-temannya dengan lapang dada. Mau apa lagi, ia memang tidak akan pernah sekalipun mengubah sikap. Ia paling benci ada teman yang hanya mengandalkan pekerjaan teman lain, meniru dan menconteknya tanpa mau berpikir sendiri. Bahkan tugas yang jawabannya jelas ada dalam buku paket saja, mereka malas mencarinya. Biarlah, Lutfi rela hidup sendiri di dalam kelas. Ia jadi orang asing di tengah teman-temannya.

Hari ini pulang agak cepat dari pada hari biasanya. Bapak ibu guru ada rapat pleno, jadi siswa diharap belajar di rumah.

Lutfi melangkahkan kaki ke luar gerbang sekolah. Ia berencana mampir warnet yang ada di seberang sekolah. Ada tugas yang harus dikerjakan, dan referensinya harus dicari di internet.

Beruntung, ia masih kebagian salah satu bilik warnet yang ternyata penuh pengunjung. Rupanya kesempatan pulang awal, dimanfaatkan juga oleh teman-temannya untuk ke warnet. Tapi Lutfi tahu, tidak semua temannya ke warnet untuk mengerjakan tugas, kebanyakan mereka memilih main game online, atau sekadar nonton video di YouTube.

Sesaat berada di biliknya, Lutfi sudah asyik membuka laman web untuk mencari kelengkapan bahan tugas. Saat itulah, ia mendengar sedikit ribut di tempat penjaga warnet yang memang berada di dekat biliknya. Suara penjaga warnet itu jelas sekali ia dengar.

"Tapi bilik penuh, Mbak. Lihat saja sendiri, tidak ada yang kosong," kata Mas Zaini, penjaga warnet.

"Ya, gimana dong. Tugas saya banyak sekali, Mas." Suara seorang siswi.

"Ke warnet lain coba," saran Mas Zaini.

"Warnet sebelah juga pas penuh, Mas."

"Kalau begitu, tulis saja tugasmu apa. Nanti aku carikan. Besok pagi, bisa kamu ambil," saran Mas Zaini.

"Ini kan tugas saya, Mas. Bukan tugas Mas."


"Sama saja. Aku kan cuma bantu mencarikannya di internet. Gurumu juga tidak bakal peduli kamu kerjakan sendiri atau tidak. Sama kayak teman-temanmu, seperti biasa. Tugas tinggal pesan padaku, pasti beres."

"Maaf, Mas. Saya tidak bisa begitu. Ini tugas saya, dan saya harus kerjakan sendiri."

"Terserah, yang jelas warnet lagi penuh. Itu, teman-temanmu yang pada main game online, tugasnya juga cuma nitip aku yang cariin."

Lutfi sejak tadi terusik dengan obrolan seorang siswi dengan Mas Zaini itu. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dalam hati ia takjub dengan sikap siswi itu.

"Siapa dia? Kok aku penasaran pengin kenal dia," batin Lutfi. Ia lalu mengintai dari pintu bilik yang terbuka, dan matanya menangkap badge nama di atas saku baju sekolah siswi itu. Namanya Sovia.

Suara Mas Zaini terdengar lagi, "Kalau mau bersabar, silakan tunggu sampai ada bilik yang kosong."

"Baiklah, saya akan menunggu saja," putus Sovia.

"Silakan duduk di kursi itu, semoga ada yang cepat keluar," kata Mas Zaini.

Lutfi segera mempercepat pekerjaannya. Ia ingin segera memberi kesempatan pada Sovia untuk mengerjakan tugasnya. Entah mengapa, Lutfi merasa keberadaan Sovia membuatnya merasa tidak sendiri lagi.

***

Wakhid Syamsudin, ketua komunitas menulis One Day One Post, tinggal di Sidowayah RT 001 RW 006 Ngreco Weru Sukoharjo Jawa Tengah.

Cerma (cerita remaja) dimuat di tabloid Minggu Pagi edisi No 09 Th 72Minggu V Mei 2019