Halaman Rumah Syamsa: Cerbung
Balada Kopdar (5) Syukur

Balada Kopdar (5) Syukur


Balada Kopdar
Bagian 5 -Syukur

Ahad, 4 Maret 2018

Sudah lewat jam 9 ketika acara kopdar dimulai. Semua peserta sudah berkumpul. Mas Lutfi yang memandu sebagai master of ceremonies, mengajak semua mensyukuri nikmat tidak terhingga ini. Alunan basmalah mengiring dibukanya pertemuan luar biasa para penggiat dunia kepenulisan ini.

Mas Rouf melantunkan Arrahman

Selanjutnya, pembacaan ayat suci Alquran membahana menyentuh relung-relung hati hadirin, dengan alunan merdu suara Mas Rouf, yang membacakan surat Ar Rahman. Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Sepintas melihat Mas Rouf mengingatkanku pada salah satu keponakanku. "Mirip Ringga, ya, Bun?" bisikku pada istri, disambut anggukannya.


Setelah sesaat hanyut dengan lantunan bacaan Mas Rouf, dilanjutkan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Umum ODOP periode II yakni Mas Tian. Usai sambutan, acara sharing dipandu oleh Mbak Sakifah. Dalam kesempatan ini, Mbak Saki menyampaikan bahwa ada beberapa teman yang awalnya sudah berniat hadir tapi mendadak berhalangan datang.

"Semoga lain waktu kita bisa berkumpul dengan teman-teman yang berhalangan hari ini," doanya. Lalu ia melanjutkan, "Kemarin Pak Parto mengabarkan akan datang, tapi sampai sekarang belum tiba dan tidak ada kabar dari beliau."

Tapi tidak lama berselang, peserta kopdar yang disebut-sebut Mbak Saki barusan tiba. Beliau adalah sesepuh dan penasehat ODOP, Pak Parto. Seluruh peserta kopdar lekas berdiri menyambut kehadiran beliau. Aku sendiri tidak menyangka ada beliau yang hadir di sini. Tidak menyangka bisa berjumpa beliau yang penuh semangat meski usia tidak lagi muda itu.

"Alhamdulillah, Pak Parto bisa rawuh ...."

"Saya mohon maaf terlambat," kata Pak Parto. Beliau lalu menceritakan alasan keterlambatannya, "Awalnya kan kita kopdar mau di Sambisari. Saya terlanjur janji sama saudara yang tinggal dekat sana, jadi saya harus menemuinya dahulu sebelum akhirnya ke sini. Jadi saya mohon maaf terlambat datang."

Pak Parto hadir di tengah-tengah peserta kopdar.
Setelah Pak Parto dipersilakan duduk dekat Mas Tian, Mbak Sakifah memberikan kesempatan kepada Mbak Hiday, salah satu peserta kopdar senior yang sebentar lagi harus pamit duluan karena ada keperluan lain. Mbak Hiday lekas menyampaikan sesuatu. Iya, sesuatu banget.

Mbak Hiday menyampaikan nasihat-nasihat.

Mbak Hiday menyampaikan kebanggaan akan adanya ODOP dan kebahagiaannya menjadi bagian dari komunitas menulis ini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pencetus ODOP yakni Bang Syaiha, yang pada kopdar kali ini tidak bisa ikut serta. Berbagai motivasi menulis disuntikkan Mbak Hiday, dengan harapan para peserta ODOP bisa berkiprah lebih jauh dalam literasi tanah air.

Sebelum Mbak Hiday berpamitan, digelar sesi foto bersama dulu. Semoga kita bisa mengikuti jejak Mbak Hiday dalam dunia kepenulisan dan mampu membawa bersama ODOP menjadi komunitas terbaik dalam dunia literasi.

BERSAMBUNG

Balada Kopdar (4) Jumpa

Balada Kopdar (4) Jumpa


Balada Kopdar
Bagian 4 - Jumpa

Ahad, 4 Maret 2018

"Kayaknya udah nyampe ini. Jauhnya ...." Segera kutulis di chat room grup kopdar. Aku meleseh di kursi sebelah istriku. Haikal pun minta dipangku.

Ada emoji senyum dikirim Mas Lutfi, salah satu peserta kopdar, sebagai balasan.

"Masuk ...," tulis Mbak Sakifah.

Dari luar tidak bisa melihat ada kegiatan di dalam rumah. Maka kupinta, "Coba ada yang keluar dong!"

Dan tidak lama kemudian muncullah seseorang gadis berjilbab yang langsung menyapa, "Mas Wakhid ya?"

"Iya," jawabku. Aku menebaknya, gadis ini adalah Mbak Renee alias Mbak Irene.

Kami pun masuk segera, mengikuti Mbak Renee. Di dalam langsung ketemu Mbak Sakifah. Aku langsung mengenalinya.

Kalian tahu, perasaan seperti apa yang harus digambarkan di sini? Aku terharu, senang, bahagia, dan berdebar-debar, seperti tidak percaya akan bertemu teman-teman yang selama ini hanya tahu lewat media sosial dan obrolan di WhatsApp. Ini memang kopdar pertama bagiku. Dan hanya ODOP-lah yang bisa memaksaku berkeinginan ikut kopdar.

Kemudian lewatlah seseorang perempuan lain. Dia melempar senyum dan kubalas. Seolah semilir angin menerpa wajahku. Tapi aku seperti lupa-lupa ingat, siapakah dia? Dia berlalu. Dan tidak lama kemudian sudah kembali mendekat. "Lupa, ya?" tanyanya menangkap keherananku.

"Ini ... Mbak Nova?" tanyaku.

"Iya, masak lupa, Mas Wakhid nih?" godanya.

"Kok beda, ya, Mbak?" komentarku. Memang Mbak Nova membuatku pangling. Kayak beda antara di foto dengan kenyataan. Dih ....

Lalu bermunculanlah Mas Lutfi, Mas Fadhli, Mas Gilang, Mas Tian, Mas Rouf dan Mas Alfian. Mas Lutfi aku juga langsung mengenali. Mas Fadhli salaman sambil sebutkan nama. Juga Mas Gilang pun langsung sebutkan nama, soalnya aku belum begitu kenal. Mas Tian malah aku agak lupa. Saat dia sebutkan nama, aku berkomentar, "Kok  tinggian di foto, ya?"

"Fotonya pakai efek peninggi, Mas," kelakar Ketua ODOP periode sekarang ini.

Sementara Mas Alfian yang agak belakangan muncul tidak menyadari kehadiranku. Baru beberapa saat kemudian dia sadar ada peserta kopdar yang baru datang dan menyalamiku, "Ini Mas Wakhid?" tanyanya seperti tidak percaya.

"Iya. Ini ..."

"Alfian, Mas."

Sungguh, suasana kebahagiaan tidak terkata. Aku benar-benar terharu. Kalian pasti akan merasakan hal sama denganku saat berada di Griya Langen ini.

Muncul juga seseorang yang aku sama sekali tidak bisa menebak siapa adanya. Seorang bapak berkopiah. Untung si bapak lekas menyapaku, "Ini dia pije saya. Mas Wakhid!"

Kami bersalaman. "Mas Wali?" tanyaku menebak. Memang dari Grup Bumi yang aku salah satu pije-nya hanya Mas Wali yang berniat ikut kopdar. Hanya aku tidak menyangka ternyata Mas Wali layak dipanggil Pakde olehku.

"Iya, Mas."

"Subhanallah, bisa bertemu di sini akhirnya."

Tidak berapa lama muncullah sepasang sejoli Kamajaya-Kamaratih yang sangat kukenali. "Subhanallah, Mas Heru!" sambutku sambil menyalami Ketua ODOP periode tahun lalu yang terkenal sangat perhatian dengan dunia sejarah dan perwayangan itu. Beliau datang bersama istri.

Perjumpaan demi perjumpaan penuh makna. Akhirnya aku melihat langsung sosok yang selama ini hanya ada dalam alam maya. Aku bertemu Mbak Mabruroh, Mbak Hiday, Mbak Ciani, Mbak Leska, Mbak Widhyanua, dan beberapa wajah asing yang belum pernah kukenali sebelumnya. Siapa saja sih ya? Ada yang mencatat tidak sih, siapa saja yang hadir? Siapapun, jelas kebahagiaan bersua semua yang hadir adalah sebuah kebahagiaan.

Sahabat maya yang terlihat nyata.

Sesaat lagi acara baru akan dimulai. Rupanya aku belum terlambat, atau acaranya yang memang molor. Hahaha. Aku sangat berterima kasih untuk semua panitia yang sibuk menyiapkan perjumpaan ini hingga detik ini.

BERSAMBUNG


Balada Kopdar (3) Jalanan

Balada Kopdar (3) Jalanan


Balada Kopdar
Bagian 3 - Jalanan

Ahad, 4 Maret 2018

Kembali ke jalanan. Menembus suasana pagi jalan raya Solo-Jogja berbekal ancer-ancer yang diberikan Mbak Sakifah di grup kopdar. "Arah Bandara masih lurus, UIN lurus, Gramedia belok kiri, muter Kridosono, arah alun-alun kidul, Kota Baru." Mbak Sakifah juga mengirimkan lokasi dari Google Maps. Waktu menunjukkan pukul 07:30 WIB.

Jujur, aku memang belum pernah ke Jogja naik motor sendiri. Pernah juga paling mengantar Haikal ketika ada acara dari sekolahan. Itu pun naik bus carteran. Seperti ke Taman Pintar, Museum Dirgantara, atau Taman Nasional Gunung Merapi. Jadi arahan yang disampaikan Mbak Sakifah memang hal baru bagiku. Secara aku memang orangnya jarang dolan, atau bisa dikata dolane adoh pithik (mainnya jauh ayam) istilahnya. Apalagi dari dulu memang pendiam dan kalem. Haha, ini bisa dibuktikan kalau kalian bertemu diriku nanti.

Aku mengendarai motor sambil melihat-lihat bangunan kanan-kiri. UIN sudah kami lewati, selanjutnya mencari Gramedia. Lumayan jauh belum juga melihat gedung bertuliskan nama toko buku besar itu. Sempat waswas juga, jangan-jangan sudah terlewat. Tapi kami yakin belum menemukannya, maka terus saja kulaju motor lurus.

"Masih jauh, ya, Yah?" Haikal mulai merasa capai rupanya.

"Masih mencari alamatnya, Kak," dijawab bundanya. "Sabar, ya ...."

Akhirnya terlihat gedung Gramedia, dan motor kubelokkan ke kiri. Sesuai petunjuk Mbak Sakifah, kami memasuki daerah Stadion Kridosono dan memutar di sana. Kami mulai bingung menentukan arah ke keraton. Aku berhenti dan mendekati seorang juru parkir yang lantas dengan ramah menyapa, "Monggo, Mas, mau ke arah mana?"

"Arah Kota Baru mana ya, Pak?"

"Kota Baru-nya mana? Ini semua jalan ke Kota Baru," jawab si bapak juru parkir.

Aku juga bingung mau bertanya seperti apa. "Mau ke Griya Langen. Bapak tahu tidak?"

Juru parkir itu malah bingung dengan ancer-ancer yang kutanyakan. Ditambah kesibukannya saat beberapa mobil minta parkir.

Kucoba bertanya di grup, "Alamat lengkapnya dong?"

"Jalan langenanstran kidul. Masuk area keraton Om," tulis Mbak Sakifah.

Di bawahnya, ada alamat lengkap dikirim Mbak Juni: "Griya Langen, Jl. Langenastran Kidul 28, Kraton."

Akhirnya aku kembali melajukan motor meski masih penuh tanda tanya dengan jalan yang ditempuh.

"Pakai GPS-nya, Yah," usul istriku. Jujur aku belum pernah menggunakannya.

Aku menepikan motor dan mencoba membuka peta yang diberikan Mbak Sakifah. Kulirik sejenak jam di pojok atas gawai sudah menunjuk pukul 08:08 WIB, alamat telat hadir kopdarnya nih. Sinyal selular yang kupakai kurang bersahabat. Untuk membuka lokasi map saja muter-muter doang. Terpaksa jalan sesuai feeling saja akhirnya. Sambil sesekali membuka gawai. Dan sinyal bagus pun mulai muncul. Lokasiku mulai terdeteksi Google Maps dan terhubung dengan lokasi yang ditandai oleh Mbak Sakifah sebagai tempat kopdar.

Selangkah demi selangkah kuikuti arah sesuai petunjuk di gawai. Sampai akhirnya kami menemukan nama jalan yang membuat kami merasa cukup lega yakni Jl. Langenastran Lor. Artinya ke selatan lagi pasti ketemu jalan kidulnya. Dan benar, kami memasuki Jl. Langenastran Kidul. Tinggal menyusuri nomer rumah yang ada. Sampailah kami ke sebuah penginapan dengan nama yang disebutkan di grup: Griya Langen.

Griya Langen, jepretan Mbak Widhyanua
Waktu menunjukkan pukul 08:55 WIB begitu aku memarkir motor. Melepas helm dan jaket. Haikal turun dan melepas jaket serta helm juga. Istriku dan si kecil Rara langsung melepas penat di kursi yang tersedia di teras rumah. Alhamdulillah, sampai juga akhirnya.

BERSAMBUNG
Balada Kopdar (2) Sambisari

Balada Kopdar (2) Sambisari


Balada Kopdar
Bagian 2 - Sambisari

Ahad, 4 Maret 2018

Jam dinding belum tepat menunjuk ke angka 4 pagi, aku sudah terjaga. Begitu juga istriku. Sementara Haikal dan Rara masih nyenyak dengan mimpinya. Aku bergegas mandi. Istriku langsung menyerbu piring kotor, dilanjut mencuci baju. Dia memang paling tidak suka meninggalkan rumah masih ada kerjaan terbengkalai.

Usai mandi, terdengar suara Rara memanggil-manggil dari kamar. Si kecil sudah bangun rupanya. Aku lekas mendekatinya sebelum ia menangis. Rupanya, Haikal juga terjaga gara-gara suara adiknya yang memanggil mencari teman. "Alhamdulillah sudah pada bangun. Yuk, siap-siap mandi," ajakku.

Bersyukur kedua buah hatiku ini menurut. Meski baru jam 4 dan azan Subuh belum berkumandang, keduanya sudah berguyur air dingin. Kedua anak kami ini memang tidak terbiasa mandi air hangat. Sementara bunda mereka juga sudah kelar mencuci, dan bersiap untuk mandi. Azan Subuh berkumandang saat aku memakaiakan baju si kecil Rara. Kakaknya pun sedang mengenakan pakaiannya di samping Rara.

Persiapan kami tidak begitu ribet karena sudah sejak semalam mulai menyiapkannya. Termasuk satu eksemplar buku yang harus dibawa untuk acara tukar buku saat kopdar nanti. Aku memilih sebuah buku antologi berjudul Cinta Sedarah terbitan Leutika Prio, kumcer teman-teman pemula yang pernah terbit lewat grup Proyek Buku Gotong-Royong yang pernah kugawangi dulu.

Sekitar pukul 5 kami sudah di atas motor. Haikal duduk di depan, sementara Rara digendong bundanya di jok belakang. Mbah Putri melepas keberangkatan kami dengan segala pesan agar berhati-hati di jalan. Bismillah, kami berangkat.

Dari Weru, kami melewati jalur Cawas, ke barat lewat Bayat, Wedi, lalu memasuki jalan raya Solo-Jogja, sekitar sejam perjalanan. Untung cuaca tidak dingin dan jalan juga masih sepi. Ketika sudah melintasi jalan Solo-Jogja, istriku teringat sesuatu, "Yah ... maaf, Bunda lupa nggak bawa mantol."

Di dalam jok motor memang ada satu mantol yang kubawa ke mana-mana, tapi kami biasa juga bawa satu mantol lagi kalau bepergian. Dan istriku tumben lupa membawanya. Mau balik ambil kan tidak memungkinkan. "Ya sudah, semoga nggak hujan, Bun," kataku.

"Semoga," aminnya.

"Kalau hujan nanti beli mantol di jalan saja," usulku.

Seingatku, acara kopdar bertempat di Candi Sambisari, Purwomartani, Kalasan, baru akan dimulai pukul 9 pagi. Kami memang berangkat pagi-pagi sekali biar tidak buru-buru. Nanti bisa menikmati pagi di Jogja sekaligus mencari sarapan di sana. Jauh-jauh hari, aku juga sudah browsing mencari tahu letak bangunan bersejarah itu. Tidak terlalu jauh dari Prambanan, kata Mbak Sakifah beberapa hari lalu di chat. Itu berarti memang tidak jauh-jauh amat. Semoga tidak nyasar ke sananya.


Ketika perjalanan sudah sampai sekitaran Candi Prambanan, dan menoleh ke samping kanan kami sudah bisa melihat bangunan bersejarah itu dari kejauhan, kami sudah bersiap untuk lebih memperhatikan rambu jalan, terus meluncur ke arah Jogja dan mencari-cari penunjuk arah ke Candi Sambisari. Tapi kami tidak menemukan penunjuk itu.

"Bun, depan itu perasaan sudah mulai masuk kawasan bandara. Jalan ke Candi Sambisari harusnya tidak sampai di sini," kataku. Lalu kupelankan motor dan menepi ke halaman sebuah toko yang masih tutup.

"Kebablasan berarti?" tanya istriku.

"Bisa jadi."

Kubuka gawai, mendapati chat masuk ke WhatsApp. Dari Mbak Renee yang mem-forward sebuah pemberitahuan dari panitia kopdar. Aku hanya membaca rundown acaranya, yang ternyata akan dimulai pukul 7 pagi. "Jamnya dimajukan, Bun," kataku.

"Untung kita berangkat pagi-pagi, Yah," komentarnya.

Lalu aku mendekati seorang ibu yang baru membuka toko dekat tempat kami berhenti. Kami menanyakan arah ke Sambisari. Ternyata sudah terlewat. Kami harus putar balik, nanti ada penunjuk arah yang bisa dilihat kalau jalan dari arah Jogja. Kembali kami meluncur di jalanan mencari arah candi itu.

Kami sudah menemukan penunjuk arah itu dan mengikutinya. Ternyata Candi Sambisari lumayan jauh dari jalan raya. Tapi kami sampai di sana sekitar setengah tujuh. Masih pagi. Terlihat pintu masuk ke kawasan candi masih ditutup. Tapi banyak anak-anak muda dan warga sekitar yang berolah raga di sini. Kami parkir motor di salah satu pekarangan rumah warga yang memang disiapkan untuk area jasa parkir.

Kubuka WhatsApp. Rupanya aku sudah dimasukkan grup kopdar. Dan di dalamnya terlihat aktivitas penghuninya yang sebagian besar peserta kopdar yang sudah di penginapan. Mereka masih menikmati pagi di alun-alun katanya.

Menunggu sarapan soto disajikan.
Kami sarapan soto sambil menunggu waktu.

"Saya sudah di Candi." tulisku di chat room grup kopdar.

"Candi mana, Mas?" tanya Mbak Nova, salah satu peserta kopdar.

"Sambisari."

"Langsung ke penginapan saja."

Ke penginapan? Aku lekas membuka pengumuman yang tadi dikirim Mbak Renee. Dan terkejutlah aku. "Bun," panggilku ke istri.

"Gimana, Yah?"

"Lokasi kopdar pindah ke penginapan. Ayah tidak baca pengumumannya. Hanya baca jam mulainya. Waduh."

"Terus, penginapannya di mana?"

"Kalau tidak salah sekitar alun-alun kidul."

"Alun-alun? Berarti jauh sekali dari sini, Yah ...."

Dan benar. Lokasi kopdar masih jauh. Mendadak aku lemas. Tiwas tenang-tenang sudah sampai di lokasi. Ternyata dengan alasan jarak dan jauhnya dari stasiun karena peserta ada yang harus segera pulang setelah kelar, maka acara kopdar pindah ke penginapan. Ya Allah ... ternyata kesalahan besarku tidak gabung ke grup kopdar dari kemarin membawa bencana. Kami lekas menghabiskan sarapan dan bersiap naik motor lagi.

Candi Sambisari, maaf tidak jadi masuk dan mengunjungimu. Semoga lain kali, ya.

BERSAMBUNG
Balada Kopdar (1) Dilema

Balada Kopdar (1) Dilema


Balada Kopdar
Bagian 1 - Dilema

Sabtu sore, 3 Maret 2018

"Sudah dapat izin, Yah?" sambut istriku begitu aku sampai di rumah.

"Alhamdulillah."

"Izin sama Pak Haji?"

"Izin ke Bu Haji. Alhamdulillah diizinkan. Beliau juga nggak nanya mau izin ke mana."

"Katanya lagi banyak kerjaan?"

"Iya. Mungkin karena Ayah jarang izin, jadi diizinkan begitu saja. Padahal kerjaan pas numpuk belakangan ini. Tahu sendiri kan, Bun, Ramadhan tidak lama lagi."

"Syukurlah, Ayah sudah ayem, kan, bakal kesampaian ketemu teman-teman Ayah?"

Aku mengangguk senang. Rencananya, besok pagi kami akan berangkat ke Jogja untuk menghadiri Kopdar Akbar #1 komunitas One Day One Post. Komunitas menulis yang aku bergabung di dalamnya, yang biasa disingkat ODOP. Di mana seleksi untuk jadi anggota di sana harus bisa konsisten menulis dan memublikasikannya di blog pribadi setiap hari satu tulisan, selama kurang-lebih 2 bulan. Aku masuk pada angkatan keempat (Batch 4). Dan besok adalah hari H kopdar akbar pertama komunitas ini.

Aku sempat dilema dengan kenyataan ini. Aku sangat ingin bisa ikut, dan aku sudah bilang in sya Allah ke panitia kopdar untuk hadir. Apa lagi di Jogja yang terjangkau jaraknya. Tapi kenyataan di tempatku bekerja, sedang banyak pekerjaan yang posisiku di sana tidak bisa digantikan karyawan lain. Sebenarnya boss-ku orangnya santai, aku bisa izin kapan saja. Hanya aku kadang suka tidak enak hati kalau izin saat banyak pekerjaan begini. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang harus minta izin libur sehari. Memang, aku tidak kenal hari Minggu di sana. Tidak ada libur, hanya saja jam kerjaku tidak sepanjang jam kerja karyawan lain pada umumnya. Kadang masuk jam 8 pagi, jam 10 sudah bisa pulang. Tapi saat ini, paling cepat aku bisa pulang waktu Asar. Artinya, memang sedang banyak pekerjaan. Tadi aku sudah meminta izin itu kepada Bu Haji, istri boss, dan seperti biasa, dipersilakan, bahkan tanpa alasan keperluanku apa.


"Tapi ..."

Aku menaruh tas kecil yang biasa kubawa ke tempat kerja. Lalu mendekati istriku. "Ada apa?"

"Mbah Putri besok panen."

Waduh! Apa artinya ini? Apakah aku akan gagal ikut kopdar ? Ini memang sudah masuk musim panen padi di kampungku. Sawah sudah menguning oleh padi-padi menua yang menunduk tanda berisi. Begitu juga sawah seperempat pathok milik keluargaku yang masih digarap sendiri oleh Mbah Putri, mamakku, neneknya anak-anak. Beliau masih rajin ke sawah, bahkan ikut melelang sawah tanah kas desa untuk dikelola selama setahun.

"Terus bagaimana ini?" tanyaku.

"Tenang saja, Yah. Panennya dikerjakan para pemboreg (pemborong panen padi). Seperti biasa, paling cuma mengangkut hasil panen pulang. Lek Nur libur kok."

Aku mulai lega dengan penjelasan itu. Untung adikku kerja tidak jauh, dan bisa libur saat panen besok. Jadi ada yang membantu mengangkut hasil panen pulang. Itu artinya, aku bisa berangkat ke Jogja, in sya Allah.

"Kakak juga sudah Bunda kasih tahu, kalau besok mau diajak ke Jogja."

"Syukurlah. Rara sudah tidak batuk lagi, kan?"

"Alhamdulillah Rara sudah sembuh. Jadi besok bisa menemani Ayah kopdar."

Tampaknya, semua memang sudah oke. Izin sudah didapat, anak-istri sehat dan siap diajak ke Jogja besok. Motor bebek setiaku juga sudah diservis. Semoga dimudahkan bertemu teman-teman ODOP, dan menjadikan jalinan ukhuwah dan silaturahim yang barakah.

Aku menengok grup WhatsApp. Aku ingat, kemarin Mbak Sakifah, salah satu panitia kopdar yang paling sibuk, memberikan link grup khusus kopdar. Kemarin aku belum berani ikut gabung karena belum meminta izin ke boss dan takut kalau tidak bisa ikut. Aku berniat masuk ke grup itu dari link yang dibagikan di grup komunitas.

"Hape ... hape!" Tapi Rara, bungsuku yang baru berumur setahun lebih, melihat ayahnya pegang gawai, langsung mendekat dan hendak meminta pinjam. Selalu begitu, dia selalu minta diputarkan video lagu anak-anak kesukaannya. "Cicak ... cicak...!" pintanya sambil meniru kata pertama lagu Cicak-Cicak di Dinding.

"Iya, iya." Aku tidak jadi mencari link yang dibagikan Mbak Sakifah. Tidak lama kemudian si Rara sudah goyang-goyang mengikuti alunan musik sambil menatap layar gawaiku.

(BERSAMBUNG)

 

Rumah Kulon (4)

Rumah Kulon (4)


Pagi yang indah. Suara burung saling sahut di pepohonan menyambut sinar matahari pagi yang mulai menyembul dari balik bukit sebelah timur. Sementara ayam jago sudah kelelahan berkokok, mereka menikmati sarapan pagi bekatul dicampur nasi sisa yang diaduk ditambahi sedikit air. Rasanya benar-benar mantap. Apalagi ditemani betina-betina yang sedang begairah. Makin serulah pagi ini.

Dita sedang mengeringkan rambutnya. Sebelum Subuh tadi dia sudah mandi keramas. Alfian juga sudah terlihat rapi. Rambutnya masih terlihat basah tapi sudah disisir rapi. Ia sedang memanaskan mesin motor bebeknya di beranda depan. Sementara si kembar Novia dan Sovia masih ribut di kamarnya mau pakai baju apa.

Waktu menunjukkan pukul 06.12 WIB saat tergopoh-gopoh, Mbah Wiwid mendatangi rumah Alfian. Alfian yang sedang mengelap motor bebeknya segera bangkit. Mbah Wiwid tiba di depannya.

"Ada apa, Mbah? Kok seperti buru-buru begitu?" tanya Alfian lekas.

"Mas Alfian libur, kan? Simbah mau minta tolong...," kata Mbah Wiwid dengan nada penuh harap.

"Minta tolong apa, Mbah? Memang sih, saya libur hari ini."

"Syukurlah kalau begitu. Itu lho Mbah Kakung demam sudah tiga hari. Batuknya juga tidak mau berhenti. Sudah saya bujuk-bujuk untuk berobat dari kemarin belum juga mau. Alhamdulillah pagi ini Kakung bersedia untuk diantar berobat."

Alfian sudah menangkap arahnya. "Mbah minta saya yang ngantar?"

"Siapa lagi, Mas Alfian. Kami memang kaki-nini yang cuma bisa bikin repot Mas Alfian. Beginilah susahnya anak jauh semua, Mas."

Alfian terdiam. Mbah Wiwid memang tinggal berdua saja sama Mbah Bari, suaminya. Rumah mereka sebelah timur rumah Alfian hanya dibatasi sebuah pekarangan kosong. Sebenarnya mereka memiliki lima orang anak, tapi semua sukses di perantauan. Mereka hanya mudik ketika lebaran. Alfian sering merasa kasihan, maka tiap kali kakek-nenek itu butuh bantuan, ia tidak bisa menolak.

"Bagaimana, Mas? Bisa minta tolong periksakan Mbah Kakung ke Bu Dokter Ilmi seperti biasa?" tanya Mbah Wiwid bernada bujukan.

"Ya, sudah. Biar saya antar Mbah Bari berobat. Sebentar lagi saya ke sana."

"Matur nuwun sekali, Mas Alfian. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu dengan limpahan rezeki dan barakah...."

"Aamiin, Mbah."

Mbah Wiwid terlihat bersemangat. Segera ia pamit dulu untuk memastikan suaminya siap-siap. Sejenak Alfian memandangi langkah perempuan tua itu. Ada rasa kasihan juga menyusupi benaknya.

Alfian masuk ke rumah. Meraih jaket yang ditaruh di gantungan baju. Lalu mengenakannya. Ia melihat jam dinding. Kemudian ke kamar. Menjumpai Dita yang sudah berganti baju.

"Mah, Papah mau ngantar Mbah Bari periksa dulu ke Dokter Ilmi. Kasihan, kata Mbah Wiwid sakit sudah tiga hari."

Dita melongo. "Kita kan mau berangkat, Pah?"

"Sebentar ini. Mamah sabar dulu ya. Kasihan Mbah Bari kelamaan menunggu."

Alfian tidak menunggu Dita menjawab. Ia lekas keluar. Menaiki motor bebeknya. Tak lama kemudian sudah meluncur ke rumah Mbah Wiwid.

"Mah... Papah ke mana tuh?" Suara Sovia.

Dita tidak menjawab. Dibantingnya sisir rambut yang ia pegang ke lantai dengan kesal.

"Tadi kayak suara Mbah Wiwid yang datang?" Novia ikut bicara. Kedua kembar ini sudah keluar dari kamar. Sudah dandan cantik siap berangkat.

Sementara Alfian sudah sampai di rumah Mbah Wiwid. Mbah Bari juga sudah duduk menunggu di lincak yang ada di serambi rumah. Kakek itu batuk-batuk terus.

Alfian lekas turun dari motor. Kemudian membimbing Mbah Bari ke atas jok motor bebeknya.

"Bismillah, Kakung. Nanti ketemu sama obatnya pasti sembuh," bujuk Mbah Wiwid sambil membenarkan jaket lusuh yang dikenakan suaminya.

Saat itulah, terlihat seorang perempuan mendekat. Rupanya Irene.

"Mbah Bari mau diperiksakan ya?" tanya Irene memperlihatkan kepeduliannya pada tetangga.

"Iya, Nduk. Tiga hari tidak turun dari tempat tidur. Susah dibujuk suruh periksa." Mbah Wiwid menjawab.

Irene ikut membetulkan duduk Mbah Bari di atas boncengan. "Hati-hati, Mbah."

"Sudah siap, Mbah?" Alfian bertanya. Ia sudah duduk di depan. Sudah menyalakan mesin motor juga.

Mbah Bari batuk lagi. "Uhuk... iya, sudah siap," jawabnya.

Irene memandang Alfian sambil tersenyum. "Untung ada Pak Alfian yang baik hati. Yang suka menolong orang susah."

Mbah Wiwid mengangguk membenarkan perkataan Irene. Alfian melirik Mbah Wiwid sambil berkata, "Kami berangkat dulu, Mbah."

"Iya. Hati-hati, ya...."

"Mari, Mbak Irene."

"Iya, Pak Alfian. Pelan-pelan saja tidak usah ngebut."

Motor Alfian lekas melaju di atas jalan kampung. Matahari mulai beranjak. Langit benar-benar cerah pagi ini. Mbah Wiwid dan Irene memandang kepergian Alfian dan Mbah Bari sampai belok di tikungan jalan.

Sementara ada sepasang mata memandang kejadian itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Matamu seperti anjing melihat tulang, Irene!" desis pemilik sepasang mata yang terlihat kesal itu.

"Mamah... kita jadi ke rumah kulon nggak, sih?" Sovia mengguncang tangan mamahnya.

"Mamah nggak tahu. Tanya papahmu nanti. Menyebalkan!"

BERSAMBUNG
Rumah Kulon (3)

Rumah Kulon (3)


Alfian kembali membuka mulutnya. Dua suapan dari sang istri yang masih membuatnya heran. Barusan marah-marah, eh sekarang menyuapinya.

"Mamah tumben?"

"Tumben apa?"

"Nyuapin Papah. Rasanya selama punya Novia dan Sovia, baru kali ini deh Mamah nyuapin Papah."

Dita tersenyum lagi. "Terakhir kali Mamah suapin kapan?"

"Lupa. Sudah lama banget."

"Ya sudah, nggak usah diingat-ingat. Ayo, lanjutin," kata Dita sambil menyodorkan suapan ketiga.

"Mamah nggak mau nyobain mie godoknya?"

"Kan spesial buat Pak Alfian."

Alfian berhenti mengunyah. "Udah, ah. Hilang lagi selera makan Papah."

"Aduh... maaf deh, Pah. Mamah salah bicara ya?"

Alfian menolak suapan berikutnya. Dita jadi merasa bersalah. "Ya sudah... Mamah ikut makan," kata Dita sambil menyuapkan sesendok mie ke mulutnya sendiri.

"Enak nggak, Mah?" Alfian bertanya.

"Lumayan lah. Tapi tetap kalah sama bikinan Mamah."

Alfian nyengir. "Sesekali Mamah bikin yang banyak. Kasihlah ke rumah Mbak Irene semangkuk."

Dita tiba-tiba seperti tersedak. "Apa, Pah?"

"Kenapa, Mah? Minum dulu, gih!"

"Ambilin."

Alfian segera bangkit. Keluar kamar menuju dispenser di dekat ruang makan. Tidak lama kemudian sudah kembali ke kamar dengan segelas air putih.

Dita lekas meneguk cairan tawar itu. Alfian bertanya, "Mamah kenapa pakai tersedak begitu? Tidak cocok dengan saran Papah?"

"Memangnya buat apa pakai kirim makan ke mereka?"

"Tetangga yang baik itu ya begitu, Mah. Suka memberi."

"Maksud Papah, Irene itu tetangga baik? Terus Mamah sebaliknya? Kan Mamah nggak pernah kirim makanan ke mereka."

Alfian merangkulkan tangan ke pundak Dita yang duduk di sebelahnya. Ia tahu masih ada nada tidak suka pada kalimatnya barusan.

"Papah nggak ngomong begitu. Mamah sensi banget deh kalau denger nama Mbak Irene."

"Kan Mamah udah bilang, nggak suka sama sikap tetangga genit begitu."

"Itu kan hanya menurut pandangan Mamah saja."

"Papah kok malah mbelain dia terus? Mau bikin Mamah kesel lagi?"

Alfian memeluk Dita. "Sudah ah. Nggak asik malam-malam ribut."

Dita menghela napas perlahan. Tangannya bergerak lagi. Menyuapi Alfian. Alfian menyambut dengan senang hati. Kadang lucu juga istrinya ini, kesal sendiri, sebal sama Mbak Irene, tapi mau menyuapi sang suami dengan makanan bikinan Mbak Irene. Alfian tidak mau mempersoalkannya.

Keduanya tidak berbicara lagi. Suapan Dita bergantian ke mulut suaminya lalu ke mulut sendiri. Sampai suapan terakhir.

"Alhamdulillah habis, Mah." Alfian merasa justru mie godok inilah pahlawan bagi sikap Dita yang kembali hangat.

"Mbak Novia... sebal deh!"

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kamar si kembar. Alfian dan Dita saling pandang. "Kenapa tuh anak-anak?" Alfian bertanya.

"Coba Mamah lihat. Mamah pikir sudah pada tidur...."

Dita lekas melangkah ke luar kamar sambil membawa mangkuk kosong untuk ditaruh di dapur. Alfian merebahkan diri. Bersyukur juga Dita tidak lagi uring-uringan nggak jelas seperti tadi.

Dita langsung menuju kamar duo kembarnya setelah menaruh mangkuk di dapur. Begitu pintu dibuka, terlihat Sovia sudah berdiri sementara Novia duduk sambil tertawa di atas kasur.

"Ada apa ini? Sudah malam bukannya tidur malah pada ribut?" omel Dita.

"Mbak Novia tuh, Mah... kentut bau banget!" Sovia mengadu sambil menunjuk Novia yang cekikikan.

"Eh... kalian ini. Cuma masalah kentut saja diributkan. Sudah ah. Sovia kembali ke tempat tidur. Matikan lampunya!" Dita lekas mendekati Sovia dan menuntunnya ke atas ranjang.

"Tenang saja... sudah hilang baunya kok," kata Novia masih sambil tertawa.

"Kalian ini... cepetan bobok. Awas saja kalau kalian bangunnya kesiangan, Mamah tinggal di rumah," kata Dita dengan nada setengah mengancam.

"Jangan, Mah... kita ikut ke rumah kulon," protes Novia cepat. "Kangen sama Simbah."

"Ya sudah... kalau ikut segera tidur."

"Iya, Mah. Iya, Mah...."

Sovia berbaring bersebelahan dengan kembarannya. Dita segera membetulkan selimut yang menutup tubuh kedua putrinya itu.

"Jangan lupa berdoa dulu," Dita mengingatkan.

"Iya, Mah."

Dita mematikan lampu kamar duo kembarnya. Menyalakan lampu tidur kecil yang menancap pada stop kontak. Lalu ke luar kamar.

Sesampainya di kamar, Dita menjumpai Alfian sudah terkapar di atas kasur. Dita memandangi sang suami. Seorang lelaki baik yang menjadi pahlawan di hatinya. Sebuah kecupan didaratkannya ke kening sang kekasih. Lalu ia berbaring di sebelahnya. Merangkulnya hangat.

BERSAMBUNG
Rumah Kulon (2)

Rumah Kulon (2)

Rumah Kulon
Bagian Dua

"Mamah cemburu?"

"Sama tetangga kegenitan itu? Wow... sorry, Pah. Nggak level!" Dita menyahut cepat.

Alfian tertawa. Tidak tahan juga menahan geli dengan sikap sang istri. "Syukurlah kalau begitu."

"Papah senang, ya? Hem... jangan-jangan Papah juga suka sama perempuan keganjenan itu!" Dita muntap.

"Mamah ini... Papah mana mungkin menyukai Mbak Irene. Wong dia juga sudah punya suami. Mamah jangan suka mikir aneh-aneh begitu...."

"Ya, siapa tahu. Kan dia sering ngirim makanan kemari, bisa saja memang ada apa-apa di antara kalian."

"Mamah! Mamah kok jadi ngelantur ke mana-mana. Mamah senang kalau Papah main-main sama perempuan lain? Jagalah kalau bicara, Mah. Itu bisa jadi doa." Alfian mulai terusik juga dengan kata-kata Dita.

"Mamah cuma nggak suka saja kalau tetangga kegenitan itu nganter makanan ke sini. Papah nggak lihat di pintu tadi, sih. Matanya jelalatan ke mana-mana nyariin Pak Alfian!" Dita malah semakin sengit saja.

"Terus Mamah berpikiran yang tidak-tidak?" Alfian menyahut.

"Gayanya bicara itu lho, Pah. Kalau nyebut nama Pak Alfian kayak perempuan lagi kasmaran saja. Tidak tahu malu. Di depan Mamah pula. Sinting!"

"Kasmaran sama Papah? Mustahil, Mamah. Mbak Irene sudah bersuami. Rumah tangga mereka baik-baik saja. Mamah aneh-aneh."

"Tapi kan sudah menikah lama dengan Mas Yoga, mereka belum punya anak."

Alfian memandang istrinya yang semakin ketus. "Maksud Mamah apa menyinggung-nyinggung mereka yang belum dikaruniai anak?"

"Ya... barangkali dia iri sama kita yang sudah bisa bikin anak. Kembar lagi!"

"Mamah! Sudah cukup. Dosa Mamah kalau otak penuh prasangka buruk begitu!" Alfian mulai naik nadanya.

"Mamah kan hanya menduga."

"Sekali lagi Papah ingetin, Mah. Jaga bicara. Apa saja yang diucapkan bisa jadi doa. Mamah nggak takut kalau mereka jadi seperti yang Mamah prasangkakan? Mamah nggak takut kalau Mbak Irene beneran menyukai Pak Alfian?"

Dita hampir menyahut lagi. Saat itulah Sovia dan Novia muncul setelah dari kamar kecil. "Pah, Mah... pada ribut apa, sih?" tanya Sovia penasaran.

"Berisik sekali tahu," tambah Novia.

"Tanya tuh papah kalian!" Dita menyahut.

Alfian lekas mendekati duo kembarnya. Tidak baik ribut di depan anak-anak. Alfian sebenarnya tidak suka saling bantah begitu dengan Dita. Tapi kadang istrinya itu memang menguji kesabarannya.

"Nggak penting, kok. Ayo, Papah antar ke kamar."

Sovia dan Novia menurut saja. Dita yang masih kesal hanya bersungut sendiri di kamar. Satu hal yang memang paling dia benci, yakni kalau ada yang macam-macam dengan suaminya. Apalagi itu, si Irene yang di matanya terlalu ganjen pada suami orang. Bagaimana kalau Pak Alfian sampai tergoda? Dita tidak bisa membayangkan betapa akan sakit hatinya.

Tapi apa semudah itu? Dita melihat Alfian begitu sayang pada anak-anak. Juga padanya. Alfian juga bukan lelaki yang suka macam-macam. Dia lelaki baik. Dita mendesah. Barangkali memang dia saja yang terlalu berpikir jelek.

Ia jadi teringat kata-kata suaminya barusan. Ucapan bisa jadi doa, maka harus berkata yang baik. Lalu... apa harus diam saja dengan semua ini? batin Dita kesal sendiri.

Untuk sesaat kemudian, Dita bisa mengendalikan kekesalan itu. Ia duduk di tepi ranjang. Napasnya sudah mulai tenang. Dan tidak lama kemudian muncul Alfian masih dengan wajah kesalnya tadi.

"Sudah pada tidur, Pah?" Dita mencoba bertanya.

Alfian menggeleng. "Belum. Tapi sudah di kamar mereka, kok. Biarkan saja nanti juga pada tidur sendiri."

Dita tidak menyahut lagi. Alfian ikut duduk di tepi ranjang. "Papah makan dulu saja mie godok itu. Mumpung belum dingin."

Alfian menggeleng.

"Kenapa?" Dita bertanya.

"Nggak selera."

Dita tersenyum kecut. Ia bangkit mendekati meja. Mengambil mangkuk itu, mengangkatnya ke dekat sang suami.

Alfian melihat saja istri tercintanya itu kembali duduk di sampingnya. Ia menyendok mie godok. Memastikan sudah tidak panas, lalu mengarahkan sendok itu ke mulut Alfian. Alfian sempat terkejut dengan perubahan sikap sang istri.

"Ayo... buka mulut, Pah. Nggak mau Mamah suapin?"

Sendok sudah di depan bibir, refleks saja Alfian membuka mulut. Suapan mie godok masuk ke mulutnya. Dita tersenyum manis sekali.

BERSAMBUNG

Rumah Kulon (1)

Rumah Kulon (1)

Rumah Kulon
Bagian Satu

"Pah, besok jadi ke rumah kulon, kan?" Dita mendekati suaminya yang masih sibuk di depan laptop.

"Insya Allah. Semoga malam ini bisa kelar lemburan Papah," jawab Alfian tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

"Bodo amat dengan lemburan Papah. Kelar nggak kelar pokoknya besok harus ke rumah kulon!"

"Nggak harus besok, kan, Mah."

Dita cemberut. "Mas Septian sama Mbak Lail sudah di rumah kulon, Pah. Kapan lagi bisa kumpul kalau nggak libur natal berlanjut tahun baru begini!"

"Kan lebaran tahun depan juga kumpul," sahut Alfian dengan nada cuek.

"Mamah pengen lihat Safina udah segede apa, Pah. Dari masih orok sampai sekarang kan belum lihat lagi keponakan Mamah itu. Pasti bikin gemes."

"Lah... di facebook sama instagram Mbak Lail kan sudah sering Mamah lihat."

"Bedalah, Pah. Beda kalau ketemu langsung. Kata Mas Septian mereka cuma dua hari lho di rumah kulon. Sisanya mau liburan ke Wonogiri tempat Mbak Lail."

Alfian menghela napas. Mencoba lebih fokus pada kerjaannya. Dita jadi kesal dengan kelakuan sang suami. "Mamah juga sudah sering protes, pekerjaan kantor jangan suka dibawa pulang. Sebel deh!"

Tok! Tok! Tok!

"Assalamualaikum. Kulanuwun...."

Suara pintu diketuk disusul salam dari luar. Dita melenguh, "Siapa itu malam-malam bertamu?"

Sebelum Dita keluar kamar, terdengar suara Sovia dari ruang keluarga, tempat dia bersama Novia menonton televisi. "Mah... ada tamu!"

Dita keluar kamar dengan membawa kejengkelannya. Pintu depan sudah dibuka oleh Sovia, dan terlihat seorang perempuan muda di ambang pintu.

"Assalamualaikum, Bu Dita."

"Waalaikumussalam. Ada apa Mbak Irene? Silakan masuk...."

"Oh, tidak usah. Di sini saja. Saya cuma mau nganterin ini. Kebetulan saya masak mie godok banyak. Saya bawakan ini. Pak Alfian suka sama mie godok, kan?"

Dita sebenarnya agak tidak menyukai tetangganya satu ini. Apalagi ini malam-malam, memang sih belum ada jam 9, bertamu hanya untuk mengantar makanan.

Irene melongok ke dalam. Sungguh tidak sopan menurut Dita. Apalagi pertanyaannya, "Pak Alfian-nya ada, kan?"

"Terima kasih, Mbak Irene. Lain kali tidak usah repot-repot begini. Ini saya terima, ya. Tunggu sebentar, mangkuknya saya tukar sekalian." Dita lekas mengambil alih semangkuk besar dari tangan tamunya yang memang sudah diangsurkan sedari tadi.

"Wah... saya tidak repot, kok, Bu Dita. Kebetulan saja masak banyak ini tadi."

Dita langsung ke dapur. Mengambil mangkuk sesegera mungkin. Menumpah mie godok dari mangkuk Irene ke mangkuk miliknya. Lalu bergegas ke arah pintu. Menjumpai si tamu yang masih dengan konyolnya celingukan melihat-lihat ke dalam.

"Ini mangkuknya. Nanti saya sampaikan mie godoknya kepada Pak Alfian. Ini sudah malam, maaf, anak-anak sudah waktunya tidur." Dita berkata ketus, mengusir dengan halus, tapi sangat kentara.

"Eh... iya, Bu... saya pamit, ya...!"

"Iya. Terima kasih kirimannya."

Brak!

Dita menutup pintu. Membanting tepatnya. Sampai dua anak kembarnya, Sovia dan Novia, yang sedang melototi televisi, terkejut dibuatnya.

"Mamah kok banting-banting pintu, sih?" protes Novia.

"Iya... Mamah suka marah-marah kalau Tante Irene kesini. Kenapa sih, Mah? Kan Tante Irene baik, suka ngasih makanan," Sovia ikut memrotes kelakuan si mamah.

"Berisik kalian! Nonton tivi, nonton tivi saja! Tidak usah ikut urusan orang tua!" sahut Dita sewot.

Sovia dan Novia mencibir kompak. Sudah hafal rupanya dua anak kelas 2 SD itu dengan kelakuan si mamah kalau lagi kesal. Duo kembar identik itu segera kembali melototi televisi. Mamahnya lekas mengambil mangkuk penuh mie godok yang masih panas dari ruangan dapur.

"Ada apa, sih, Mah? Sukanya kok uring-uringan begitu!" Alfian berkomentar dari kamar. Ia belum beranjak dari meja tempatnya berkutat dengan keyboard laptop.

Dita masuk. Menaruh mangkuk dengan kasar, sampai kuah mie godok bercecer ke meja. Hampir membasahi laptop suaminya. "Ini masakan spesial buat Pak Alfian. Buruan makan, keburu dingin!"

Alfian melirik saja. Sebenarnya memang itu makanan kesukaannya. Mie godok ala Jawa. Tapi ada hati yang sedang kesal di dekatnya.

"Mamah makan saja. Papah mana sempat." Alfian mencoba mengelak.

"Papah nggak dengar: Saya cuma mau nganterin ini. Kebetulan saya masak mie godok banyak. Saya bawakan ini. Pak Alfian suka sama mie godok, kan?"

Sebenarnya Alfian merasa geli dengan gaya istrinya menirukan kata-kata tamunya barusan. Tapi bisa berabe kalau ia nekat menertawakan. Terpaksa ia hentikan memenceti keyboard laptop. Lalu memandang ke bidadarinya yang sedang cemberut parah.

"Mamah. Kita besok jadi ke rumah kulon. Sekarang, anak-anak ajak bobok gih. Kita berangkat pagi-pagi sekali. Biar Mamah puas di sana."

Tapi bujukan itu belum berhasil mengubah mimik muka sang istri. Alfian lekas melongok ke luar sambil berseru, "Sovia, Novia... matikan televisinya. Bobok cepat, ya. Besok kita ke rumah kulon."

"Hore... besok ke rumah Simbah!" Sovia menyambut seruan papahnya dengan riang.

"Beneran, Pah?" Novia ikut girang. Lalu memencet tombol merah pada remote yang ia pegang. Mematikan televisi dan langsung menyerbu ke kamar orangtuanya.

"Iya. Benar. Segera pipis dulu, cuci kaki sikat gigi, terus bobok. Besok bangun subuh, ya...."

"Oke, Pah!"

"Ye ye... besok ke rumah Simbah."

Keduanya berjingkrak ria. Alfian tersenyum melihat kedua buah hatinya itu. Duo kembar identik itu lekas menuju ke kamar kecil. Sementara di samping Alfian, mamah mereka masih memasang raut kejengkelan. Harus persiapkan jurus lain untuk menanganinya.

BERSAMBUNG

#TantanganFiksi
#DomesticDrama